Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Deflasi Singapura Melandai pada Bulan November 2020

Indeks harga konsumen yang menjadi indikator utama inflasi Singapura turun 0,1 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, namun masih lebih baik dibandingkan bulan Oktober yang mencapai minus 0,2 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Desember 2020  |  13:14 WIB
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh

Bisnis.com, JAKARTA – Singapura mencatatkan deflasi tipis pada bulan November 2020, di saat otoritas moneter memperkirakan perubahan positif pada tahun depan.

Dilansir dari Channel News Asia, indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) inti Singapura turun 0,1 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Data yang dirilis oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) pada Rabu (23/12/2020) tersebut sedikit lebih baik dibandingkan bulan Oktober yang mencapai minus 0,2 persen.

Laju penurunan yang lebih lambat di bulan November terutama disebabkan oleh melandainya penurunan biaya jasa dan listrik dan gas, serta inflasi pangan yang lebih tinggi.

Sementara itu, biaya jasa turun 0,2 persen pada November, terutama karena penurunan yang lebih kecil dalam biaya pasien rawat jalan dan peningkatan biaya layanan rekreasi dan budaya.

Sementara itu, harga listrik dan gas turun lebih sebesar 6,8 persen di bulan November, dibandingkan dengan minus 7,2 persen di bulan Oktober.

Adapun inflasi makanan naik tipis 1,8 persen di November, didorong oleh kenaikan yang lebih tajam pada harga makanan mentah dan makanan restoran.

Biaya eceran dan barang lainnya turun lebih tajam sebesar -2 persen. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penurunan pada harga pakaian dan alas kaki serta perlambatan laju kenaikan biaya barang tahan lama rumah tangga.

Biaya transportasi pribadi dan inflasi akomodasi tetap tidak berubah di bulan November dibandingkan dengan Oktober, masing-masing sebesar -1,3 persen dan 0,3 persen.

MAS dan MTI mempertahankan prospek mereka dari bulan Oktober pada inflasi eksternal yang tetap rendah. Hal ini dikarenakan permintaan pasar komoditas utama masih lemah serta masih adanya kesenjangan output di mitra dagang utama Singapura.

"Di sisi domestik, tekanan biaya diperkirakan akan tetap terkendali, dengan akumulasi kelonggaran di pasar tenaga kerja yang membebani upah," demikian menyurut pernyataan MAS dan MTI.

"Namun, inflasi inti diperkirakan akan sedikit positif pada tahun 2021, karena efek disinflasi dari subsidi pemerintah yang diperkenalkan tahun ini memudar dan permintaan untuk beberapa layanan domestik secara bertahap meningkat."

MAS dan MTI memperkirakan inflasi inti dan inflasi keseluruhan mencapai -0,5 persen dan 0 persen pada 2020.

Pada tahun 2021, inflasi inti diperkirakan mencapai rata-rata 0 persen hingga 1 persen, sementara inflasi keseluruhan diperkirakan antara -0,5 persen dan 0,5 persen.

Bulan lalu, MTI mengatakan ekonomi Singapura diperkirakan akan menyusut antara 6 persen dan 6,5 persen pada tahun 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi indeks harga konsumen ekonomi singapura
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top