Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Industri Hilir Plastik Tumbuh Tahun Depan, Tapi Belum Normal

Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) menyatakan tahun depan industri kemasan plastik dapat kembali membaik meski performanya belum kembali ke level prapandemi.
Membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer. Volume produksi segmen kemasan plastik hand sanitizer naik setidaknya 100 persen. /ANTARA
Membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer. Volume produksi segmen kemasan plastik hand sanitizer naik setidaknya 100 persen. /ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) memproyeksikan tahun depan industri kemasan plastik dapat kembali membaik, meski performanya belum ke level normal seperti kondisi prapandemi.

Ketua Umum Aphindo Tjokro optimistis performa industri hilir plastik akan tumbuh sekitar 5-4 persen secara tahunan pada 2021. Adapun, tren pertumbuhan diramalkan akan dimulai pada kuartal II/2020.

"Skenario kedua, kalau tersendat, pertumbuhan [volume produksi] bisa 2-2,5 persen. Itu semua tergantung pada vaksin ini. Efektivitasnya sampai mana setelah dilakukan," katanya kepada Bisnis, Senin (21/12/2020).

Namun, pertumbuhan tersebut belum dapat mengembalikan performa industri hilir plastik kembali ke posisi 2019. Pasalnya, Tjokro mencatat volume produksi industri hilir plastik anjlok sekitar 10-20 persen.

Walaupun demikian, Tjokro menyatakan masih ada pertumbuhan produksi pada salah satu jenis kemasan plastik, yaitu kemasan hand sanitizer. Menurutnya, volume produksi segmen tersebut naik setidaknya 100 persen.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono meramalkan volume produksi industri plastik sepanjang 2020 masih akan negatif. Pasalnya, serapan olefin oleh industri hilir plastik nasional hilang sekitar 7 bulan. Alhasil, volume produksi industri plastik akan minus 2,5 persen secara tahunan.

"Di hilirnya,[seperti] pasar tradisional, masih belum tumbuh bagus. Kemudian, industri yang berhubungan dengan pariwisata dan pesta belum banyak [pemulihan]," ucapnya.

Salah satu indikasi yang Fajar contohkan adalah utilisasi air minum dalam kemasan (AMDK) gelas yang masih berada di bawah 40 persen.

Namun demikian, Fajar mengamati permintaan domestik mulai kembali terbentuk. Pada saat yang bersamaan, prosedur ekspor produk petrokimia ke beberapa negara, khususnya China, menjadi sulit.

"November ini permintaan lokal sudah mulai membaik. Kemudian, untuk ekspor terkendala masalah kontainer, sehingga untuk November-Desember kebanyakan [hasil produksi] untuk pasar lokal," ucapnya.

Kementerian Perindustrian mencatat hingga kuartal II/2020, pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai 8,65 persen.

Adapun pada 2019, bersama dengan industri di sektor kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT), sektor tersebut berkontribusi kepada Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp265 triliun.

Nilai investasi di sektor industri kimia tercatat Rp6,04 triliun hingga kuartal II/2020. Dengan semua indikator tersebut, pemerintah menilai bahan kimia merupakan komoditas yang sangat strategis dan menentukan arah kebijakan terutama di bidang ekonomi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper