Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rencana Vaksinasi Massal, Industri Khawatirkan Fasilitas di Indonesia Timur

Pelaku industri mengkhawatirkan kesiapan sarana rantai pendingin guna memenuhi kelayakan dalam program vaksinasi massal yang direncanakan akan berlangsung mulai tahun depan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 15 Desember 2020  |  16:17 WIB
Pagi tadi, pesawat jenis Boeing 777-300 ER dengan nomor registrasi PK-GIC tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 05.30 WIB.  - presidenri.go.id
Pagi tadi, pesawat jenis Boeing 777-300 ER dengan nomor registrasi PK-GIC tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 05.30 WIB. - presidenri.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri mengkhawatirkan kesiapan sarana rantai pendingin guna memenuhi kelayakan dalam program vaksinasi massal yang direncanakan akan berlangsung mulai 2021.

Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat hanya tinggal dua daerah yakni Kalimantan Utara dan Bangka Belitung yang masih membutuhkan coldchain dan akan segera dibangun oleh pemerintah.

Selain itu, masih dibutuhkan 2.629 unit cold storage. Pada prinsipnya, dari data Kemenkes 97 persen Puskesmas di seluruh Indonesia terbilang sudah siap untuk melakukan kegiatan vaksinasi massal 2021.

Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni memprediksi kebutuhan cold storage vaksin tersebut untuk kapasitas mini atau sekitar 5-10 ton yang masih mampu dipenuhi industri jika pemerintah melakukan pembelian. Namun, tentu diperlukan waktu sekitar 2-3 minggu untuk produksi setiap unitnya.

Alhasil, pemerintah sebaiknya bergerak cepat dalam hal pengadaan fasilitas penunjang vaksin tersebut. Belum lagi, Yasni menyebut dari info yang beredar saat ini pemerintah telah meletakkan 11.000 refrigerator sebagai sarana penyimpanan transit.

"Sayangnya refrigerator ini kecil saya juga khawatir di Indonesia Timur yang mungkin sudah difasilitasi Bandara kecil tetapi infrastruktur ke dinas kesehatannya tidak bisa diprediksi. Jadi dalam pertemuan dengan Dirjen Perhubungan saya sarankan menggunakan refer truck," katanya kepada Bisnis, Selasa (15/12/2020).

Yasni menyebut dengan refer truck atau truk lemari es ini maka akan memungkinkan kelanjutan perjalan dengan menggunakan sepeda motor yang lebih lincah dalam waktu tempuh untuk memenuhi kecepatan produk vaksin sampai ditujuan.

Menurut Yasni, hal serupa juga dialami Biofarma yang saat ini tengah berjibaku menyiapkan seluruh saran vaksinasi massal. Antara lain dengan mempercantik setiap channel di daerahnya.

"Cuma, mereka juga tidak tahu peta infrastrukur daerah-daerah terpencil, terluar, dan tertinggal untuk baiknya memang menggunakan refer truck," ujarnya.

Yasni menyebut pada prinsipnya industri siap membantu pemerintah memenuhi kebutuhan vaksin yang akan diperlukan baik secara produksi baru maupun pengendalian operasional dari yang sudah berjalan.

Sejuah ini, Kementerian Kesehatan juga telah menghubungi sejumlah anggota ARPI melalui cash program untuk merenovasi atau membuat layanan farmasi di daerah-daerah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Cold Chain Vaksin Covid-19
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top