Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertama di Dunia, Obligasi Energi Terbarukan Indonesia Tembus US$2,75 Miliar

Pendanaan ini terkait dengan peringatan lima tahun kebijakan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim serta upaya untuk mendukung Pemerintah Indonesia  memberikan solusi inovatif untuk pembiayaan iklim.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 14 Desember 2020  |  15:12 WIB
Norimasa Shimomura - Istimewa
Norimasa Shimomura - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Innovative Financing Lab, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dan Pemerintah Indonesia telah bekerja sama yang kemudian memungkinkan penerbitan obligasi energi baru terbarukan (EBT) senilai US$2,75 miliar melalui pendanaan syariah.

Pendanaan sukuk hijau atau obligasi syariah ini pun merupakan yang pertama di dunia dan menunjukkan bagaimana pendanaan inovatif dapat membantu mengatasi tantangan pendanaan. Selain itu juga bagaimana investasi swasta dan publik dapat membantu memastikan masa depan rendah karbon yang berkelanjutan

Pendanaan ini terkait dengan peringatan lima tahun kebijakan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim serta upaya untuk mendukung Pemerintah Indonesia  memberikan solusi inovatif untuk pembiayaan iklim.

"UNDP bangga menjadi mitra Pemerintah Indonesia untuk memberikan solusi inovatif untuk pembiayaan iklim," ungkap Norimasa Shimomura, Resident Representative UNDP Indonesia dalam keterangan resminya, dikutip Senin (14/12/2020).

Shimomura menyampaikan ini pada acara diskusi kebijakan Perjanjian Paris yang diselenggarakan oleh UNDP dan Kedutaan Besar Perancis di Jakarta pada Jumat (11/12/2020).

Acara ini mempertemukan para ahli keuangan iklim untuk membahas cara-cara penanganan perubahan iklim dan mengintensifkan tindakan dan investasi yang siperlukan untuk masa depan rendah karbon yang berkelanjutan.

"Mengidentifikasi lebih banyak sumber pendanaan iklim non-tradisional akan memungkinkan pengeluaran iklim menjadi katalik dan dengan hasil yang jauh lebih transformatif, karena negara-negara berusaha untuk mengurangi emisi dan pada saat yang sama menjaga ekonomi mereka tetap berkembang," ujar Oliver Chambard, Duta Besar Prancis untuk Indonesia.

Seperti diketahui, Perjanjian Paris mewajibkan 195 penandatangannya untuk menangani perubahan iklim termasuk menjaga kenaikan suhu rata-rata global dibawah 2°C dibandingkan tingkat pra-industri. Indonesia sendiri bertujuan untuk mengurangi emisinya hingga 29 persen di tahun 2030 mendatang.

Shimomura dalam diskusi ini mengungkapkan dalam pendanaan iklim, dunia bisa belajar dari Indonesia sebagai negara yang telah merintis langkah-langkah untuk menggalang miliaran dolar.

Penggalangan dana yang telah dilakukan Indonesia adalah memanfaatkan sumber pendanaan non-tradisional untuk menutup kesenjangan yang cukup besar antara sumber daya publik yang tersedia dan pendanaan serta investasi iklim.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk energi terbarukan undp perubahan iklim
Editor : Lukas Hendra TM
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top