Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Akhir Tahun Diproyeksi 1,5 Persen, Sri Mulyani: Terendah dalam 6 Tahun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada November 2020 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 1,59 persen.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 01 Desember 2020  |  16:13 WIB
Inflasi Akhir Tahun Diproyeksi 1,5 Persen, Sri Mulyani: Terendah dalam 6 Tahun
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) bersama dengan Direktur Jenderal Pajak (DJP) Suryo Utomo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi tingkat inflasi pada akhir 2020 akan mencapai level 1,5 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada November 2020 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 1,59 persen. Sementara secara tahun kalender, inflasi mencapai 1,23 persen (year to date/ytd).

Sementara, inflasi inti pada November 2020 tercatat sebesar 0,06 persen mtm dan secara tahunan sebesar 1,67 yoy.

Sri Mulyani mengatakan inflasi pada November 2020 tersebut masih berada dalam level yang rendah karena sisi permintaan yang masih sangat lemah sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

"Outlook 2020 kami perkirakan inflasi ada di 1,5 persen. Ini sangat rendah dalam 6 tahun terakhir, jauh lebih rendah single digit," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (1/12/2020).

Namun di sisi lain, Sri Mulyani mengatakan rendahnya tingkat inflasi pada tahun ini dapat memberikan efek beban dana (cost of fund) yang lebih rendah.

Meski demikian, permintaan yang masih tertekan harus menjadi perhatian dan harus terus diperkuat ke depannya.

"Kuartal III terjadi titik balik agregat demand, terjadi pembalikan kecuali impor yang masih kontraksi dalam. Ekonomi sudah melewati titik terburuk pada kuartal II, namun tidak berarti kita harus terlena karena masih pembalikan awal dan harus dijaga," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi bps menkeu sri mulyani daya beli
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top