Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pabrikan Kimia Akui Permintaan Industri Hilir Meningkat Meski Sedikit

Pelaku industri kimia menilai perolehan PMI November di level ekspansi 50,5 merupakan hal yang menarik mengingat kenaikan permintaan industri hilir saat ini tidak signifikan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 01 Desember 2020  |  17:37 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memastikan langsung proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 8 Oktober 2020. Pembangunan proyek ini perlu diakselerasi karena akan mendukung program substitusi impor dan penguatan struktur di sektor industri petrokimia.  - Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memastikan langsung proyek revamping di PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 8 Oktober 2020. Pembangunan proyek ini perlu diakselerasi karena akan mendukung program substitusi impor dan penguatan struktur di sektor industri petrokimia. - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri kimia menilai perolehan PMI November di level ekspansi 50,5 merupakan hal yang menarik mengingat kenaikan permintaan industri hilir saat ini tidak signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan saat ini permintaan yang stabil datang dari industri hilir terkait dengan personal care, kemasan untuk makanan, water treatment, minyak goreng, MSG atau bumbu perasa, dan sabun.

"PMI November luar biasa memang ada sedikit tanda kenaikan industri, kami juga merasakan ada sedikit kenaikan produksi untuk memenuhi permintaan customers," katanya kepada Bisnis, Selasa (1/12/2020).

Michael pun meramalkan periode Desember masih akan cukup menantang karena kondisi yang belum normal dan umumnya kegiatan bisnis juga melambat dari periode bulan sebelumnya. Belum lagi industri hilir juga biasanya menurunkan inventory agar di laporan buku tahunan jadi lebih bagus.

Namun, peluang kenaikan ekspansi periode Desember tetap ada dibandingkan dengan November karena ada pergerakan pemulihan ekonomi dari yang sangat bottom kini merangkak mulai pada arah pemulihan.

"Meski kemungkinan naiknya sangat kecil karena industri sedikit menaikan inventory Desember ini untuk mencoba mengambil momentum short term dari banyaknya kenaikan harga dari bahan baku di November ini dan diperkirakan akan terus naik sampe Maret-April tahun depan," ujarnya.

Michael menilai hal itu juga kemungkinan besar dari efek shortage containers di dunia, terutama dari China. Alhasil, sehingga ongkos angkutan naik sangat tinggi nantinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri kimia indeks manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top