Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Perkuat Pemulihan, Output Industri dan Ritel Dukung Momentum

Biro Statistik China mencatat output industri naik 6,9 persen pada Oktober dari tahun sebelumnya, lebih tinggi dari estimasi median dalam survei ekonom Bloomberg sebesar 6,7 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 25 November 2020  |  16:31 WIB
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah China dan sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan di angka normal pada tahun depan. Tanda-tanda rebound ekonomi China telah tampak pada peningkatan aktivitas industri dan ekspor impor pada Oktober 2020.

Sementara itu, AS dan Eropa masih terus bergulat dengan kebangkitan infeksi virus Corona, pengendalian awal China terhadap pandemi memungkinkan pemulihan berlangsung efektif sehingga belanja konsumen akan meningkat hingga akhir tahun ini.

Lonjakan ekspor yang didukung oleh permintaan global untuk peralatan medis dan peralatan elektronik juga diperkirakan akan menopang momentum tersebut.

Biro Statistik mencatat output industri naik 6,9 persen pada Oktober dari tahun sebelumnya, lebih tinggi dari estimasi median dalam survei ekonom Bloomberg sebesar 6,7 persen.

Pertumbuhan penjualan ritel juga meningkat menjadi 4,3 persen dari 3,3 persen pada September, meskipun meleset dari ekspektasi kenaikan 5 persen.

Julia Wang, direktur eksekutif dan ahli strategi pasar global di JPMorgan Private Bank, mengatakan pemulihan kepercayaan konsumen didukung oleh pariwisata domestik dan pengeluaran selama libur panjang pada Oktober.

"Semua tampaknya mendukung pemulihan di sektor konsumen ini, yang menurut saya pada pertengahan tahun depan akan menjadi pendorong yang jauh lebih besar dari pemulihan pertumbuhan pascapandemi di China," katanya dilansir Bloomberg, Rabu (25/11/2020).

Perdagangan juga akan terus mendukung pemulihan dengan volume impor dan ekspor yang unggul dibandingkan dengan negara-negara lain. Pengendalian infeksi yang kondusif di pabrik-pabrik memungkinkan operasi dengan kecepatan penuh dan mendorong pertumbuhan maksimum pada kuartal keempat.

Pemulihan juga ditopang dukungan kebijakan ketika bank sentral, People's Bank of China (PBoC) pekan lalu menyuntikkan lebih banyak likuiditas kedalam sistem keuangan.

Belanja ritel juga bisa meningkat bulan ini karena banyak pembeli yang menunda pembelian untuk memanfaatkan festival belanja pada November.

Menurut ekonom Citigroup Inc. yang dipimpin oleh Li-gang Liu di Hong Kong, pasar tenaga kerja  yang membaik dengan tingkat pengangguran turun menjadi 5,3 persen, akan mendorong lebih banyak pengeluaran selama beberapa bulan mendatang.

Jingyang Chen, ekonom di HSBC Holdings Plc berpendapat, dalam 10 bulan pertama tahun ini, penjualan ritel masih turun 5,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2019 dan tetap menjadi bagian terlemah dari kisah pemulihan.  

"Secara keseluruhan, konsumsi domestik melanjutkan pemulihannya, meskipun perbaikan berkelanjutan di pasar tenaga kerja masih diperlukan untuk membantu mempertahankan momentum," kata Chen.

Meski begitu, momentum China berbeda dengan negara-negara tetangga termasuk Jepang, di mana lonjakan besar aktivitas selama kuartal ketiga diperkirakan akan meredup setelah mencatatkan rekor infeksi baru.

Prospek global yang lemah itu adalah salah satu alasan mengapa pejabat bank sentral China tidak buru-buru menarik stimulus meski hal itu mungkin dilakukan mengingat ruang yang tersedia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri china
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top