Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksinasi Covid-19, GPFI: Simulasi Distribusi Jadi Kunci

Komersialisasi vaksin Covid-19 diprediksi baru akan terjadi pada Juni 2021.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 25 November 2020  |  16:05 WIB
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Simulasi distribusi vaksin Covid-19 menjadi faktor yang penting untuk mengejar target vaksinasi 170 juta orang. 

Pasalnya, komersialisasi vaksin Covid-19 diramalkan baru akan terjadi pada Juni 2021 lantaran laporan uji klinis vaksin Covid-19 yang dilakukan di Bandung baru rampung pada Mei 2021. 

Dengan kata lain, jumlah vaksin yang harus didistribusikan adalah 340 juta dosis pada 2021. Adapun, vaksin yang dipiilih oleh pemerintah sejauh ini mengharuskan seseorang mengonsumsi dua dosis vaksin dalam rentang waktu tertentu untuk mencapai efikasi maksimum.  

"PT Bio Farma [Persero] harus melakukan simulasi dan segera membuat capacity planning untuk kebutuhan  tambahan chiller, cold storage, reefertruck, dan cold box," kata Ketua Bidang Distribusi Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) Hery Sutanto kepada Bisnis, Rabu (25/11/2020). 

Sejauh ini, Hery baru membuat simulasi distribusi untuk 10 juta dosis. Dalam simulasi tersebut, distribusi 10 juta dosis vaksin Covid-19 akan membutuhkan 1.923 pallet, 48 reefer container, 360 cold truck, 3.300 cold box, dan 4.375 meter kubik cold storage dengan tujuan distribusi 10.134 fasilitas kesehatan. 

Artinya, infrastruktur yang dibutuhkan pemangku kepentingan adalah simulasi GPFI yang telah ditambah 10,18 persen. Pasalnya, harus ada sekitar 11, 01 juta dosis vaksin yang dikirimkan per minggu sejak Juni 2021 untuk mengejar target distribusi 340 juta dosis pada 2021. 

Hery menyampaikan telah melaporkan simulasi tersebut pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Meski demikian, Hery menilai Bio Farma harus menjadi pemimpin dalam program imunisasi vaksin Covid-19 tahun depan. 

Selain infrastruktur distribusi, Hery mengingatkan agar pemangku kepenitngan harus memperhatikan infrastruktur logistik di tiap fasilitas kersehatan. Vaksin Covid-19 yang dipilih pemerintah sejauh ini harus disimpan di rentang suhu 2-8 derajat celcius untuk menjaga efikasi vaksin. 

"Bio Farma dan Kemenkes bisa melibatkan BPIM dan pengusaha besar farmasi [dalam distribusi vaksin COvid-19]," ucapnya 

Di samping itu, Hery menilai sejauh ini Bio Farma cukup menggandeng 5 pengusaha besar farmasi (PBF) dalam distribusi vaksin Covid-19 tahun depan. Menurutnya, PBF nasional telah memiliki pengalaman yang cukup untuk distribusi vaksin ke penjuru negeri. 

"[Hanya] Bio Farma mau [kirim] berapa dalam seminggu atau sehari. Harus dihitung butuh berapa chiller, tapi secara kemampuan [distribusi, Bio Farma dan PBF] sudah punya," ucapnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

distribusi bio farma Vaksin Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top