Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

GPFI & BPS Berbeda Angka Pertumbuhan Industri Farmasi Kala Pandemi

Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan obat imunomodulator dan suplemen kesehatan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 05 November 2020  |  19:47 WIB
Ilustrasi obat-obatan tablet dan kapsul. - REUTERS/Srdjan Zivulovic
Ilustrasi obat-obatan tablet dan kapsul. - REUTERS/Srdjan Zivulovic

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik mendata laju pertumbuhan lapangan usaha industri kimia, farmasi, dan obat tradisional melesat 14,96 persen pada kuartal III/2020 secara tahunan. Namun, pelaku industri menilai angka tersebut tidak mencerminkan industri farmasi.

Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) mencatat pertumbuhan industri farmasi pada kuartal III/2020 maksimal mencapai sekitar 7 persen. Pasalnya, tren penurunan kunjungan pasien ke rumah sakit pada kuartal II/2020 terus berlanjut pada Juli—September 2020.

"[Tumbuh] 9 persen saja sudah tidak mungkin. [Pertumbuhan kuartal III/2020] mungkin sekitar 7—8 persen. [Pertumbuhan] double digit sudah tidak pernah dicapai lagi," kata Direktur Eksekutif GPFI Dorojatun Sanusi kepada Bisnis, Kamis (5/11/2020).

Dorojatun menyampaikan bahwa realisasi pertumbuhan industri farmasi pada kuartal II/2020 dan kuartal III/2020 cenderung sama, yakni di kisaran 7 persen. Adapun, pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan obat imunomodulator dan suplemen kesehatan.

Obat imunomodulator adalah obat yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Dorodjatun menyampaikan bahwa obat imunomodulator yang banyak diserap adalah yang memiliki kandungan mineral dan vitamin tinggi.

"Tingginya permintaan imunomodulator itu tahun ini saja, secara spesifik pada saat pandemi," ucapnya.

Walakin, Dorojatun meramalkan pertumbuhan akibat permintaan imunomodulator tersebut akan terhenti pada kuartal III/2020. Artinya, lanjut Dorojatun, pertumbuhan industri farmasi akan melandai secara tahunan pada kuartal IV/2020 ke kisaran 6—6,5 persen.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh frekuensi konsumsi obat imunomodulator yang tidak bisa terus-menerus. Selain itu, Dorojatun menduga peningkatan pada kuartal II/2020 dan kuartal III/2020 didorong oleh sebagian konsumen yang menyetok imunomodulator hingga akhir tahun.

"[Permintaan imunomodulator] pada kuartal II/2020 naik tinggi. Kuartal III/2020 melandai. Pada kuartal IV/2020 akan melandai lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini  mencatat saat ini permintaan obat pada industri farmasi anjlok selama masa pandemi. Pasalnya, jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit turun drastis selama pandemi.

"Sekarang industri farmasi hidupnya dari [produksi] suplemen [karena permintaan] industri farmasi drop. Orang menahan ke rumah sakit," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bps industri farmasi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top