Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Kunjungan Tak Sebanding dengan Penjualan, Ini Masukan Kemendag

Peningkatan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan yang tidak berbanding lurus dengan tingkat penjualan selama masa libur panjang menjadi fenomena berbeda pada masa pandemi Covid-19.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  20:23 WIB
Suasana lengang terlihat di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat
Suasana lengang terlihat di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan menilai peningkatan jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan selama masa libur panjang yang diikuti dengan tren penjualan yang landai harus diantisipasi oleh pelaku usaha dengan sejumlah upaya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra mengatakan terdapat 2 hal yang dapat dijadikan cara bagi peritel modern untuk mengatisipasi hal tersebut. Pertama, menggencarkan penjualan secara daring.

"Penjualan melalui platform daring naik hampir 400 persen selama periode pandemi dibandingkan dengan kondisi normal. Kita mendorong peritel untuk lebih menggencarkan penjualan secara daring ketika penjualan secara luring sedang tidak bagus," kata Syailendra kepada Bisnis, Jumat (30/10/2020).

Pemerintah, jelasnya, saat ini memfasilitasi peritel modern dengan platform daring melalui kerja sama dengan sejumlah perusahaan, seperti Gojek, untuk mendongkrak penjualan.

Kedua, memberikan ruang kepada produk-produk lokal buatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Syailendra mengatakan pusat-pusata perbelanjaan mesti memberikan ruang lebih untuk produk-produk UMKM sehingga dapat bersaing dengan produk impor.

"Senjata paling ampuh adalah mengendalikan produk-produk impor. Satu-satunya cara yang paling efektif adalah dengan memberikan ruang bagi produk-produk lokal," sambungnya.

Sebagai informasi, peningkatan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan yang tidak berbanding lurus dengan tingkat penjualan selama masa libur panjang menjadi fenomena berbeda pada masa pandemi Covid-19.

Menurut Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), libur panjang yang berlangsung 28 Oktober - 1 November 2020 berkontribusi meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan pada Oktober, yakni 30 persen lebih banyak dibandingkan dengan Agustus, yang mana jumlah pengunjung hanya di kisaran 10 persen dari kondisi normal.

Namun, peningkatan tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat penjualan yang diperkirakan hanya sekitar 20 persen dari kondisi normal akibat daya beli yang masih terpuruk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan ritel modern Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top