Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masyarakat Tahan Belanja di Mal, Kenapa Ya?

Kenaikan pengunjung diperkirakan mencapai 30 persen dibandingkan dengan Agustus, yang mana jumlah pengunjung hanya di kisaran 10 persen dari kondisi normal.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  18:54 WIB
Suasana tenan makanan yang sepi di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat
Suasana tenan makanan yang sepi di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan kunjungan masyarakat ke ritel-ritel modern ataupun pusat-pusat perbelanjaan yang tidak berbanding lurus dengan tingkat penjualan selama masa libur panjang menjadi fenomena berbeda pada masa pandemi Covid-19.

Menurut Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), libur panjang yang berlangsung 28 Oktober - 1 November 2020 berkontribusi meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan pada Oktober.

Kenaikan pengunjung diperkirakan mencapai 30 persen dibandingkan dengan Agustus, yang mana jumlah pengunjung hanya di kisaran 10 persen dari kondisi normal.

Namun, peningkatan tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat penjualan yang diperkirakan hanya sekitar 20 persen dari kondisi normal akibat daya beli yang masih terpuruk.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai terdapat dua faktor yang menyebabkan tingkat kunjungan tak berbanding lurus dengan tingkat penjualan.

Pertama, masyarakat kalangan menengah ke atas masih menahan diri untuk berbelanja. "Kalau dari sisi tabungan, mereka [kalangan menangah atas] masih ada, tapi keinginan untuk saving juga meningkat," kata Faisal kepada Bisnis, Jumat (30/10/2020).

Kondisi psikologis masyarakat kalangan menengah atas dinilai belum mengalami banyak perubahan sejak pandemi melanda beberapa bulan lalu. Terutama, kondisi perekonomian yang belum membaik masih menodorong masyarakat di segmen tersebut untuk menahan diri.

Kedua, terdapat sebagian kecil masyarakat kalangan menengah yang pendapatannya berkurang sebagai dampak dari pandemi sehingga memengaruhi pengeluaran mereka.

Adapun, strategi promosi yang dilakukan oleh peritel modern dinilai cukup ampuh untuk menarik masyarakat kalangan menengah atas. Menurut Faisal, upaya tersebut dapat menjadi stimulus bagi masyarakat kalangan menengah atas sehingga tepat untuk dilakukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan Liburan Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top