Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Surplus Neraca Perdagangan September 2020 Pertanda Ekonomi Masih Sakit

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal ekspor yang sudah jauh membaik dibandingkan impor menunjukkan pemulihan ekonomi mulai terjadi di luar negeri, tetapi di dalam negeri justru tidak.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  16:42 WIB
Ilustrasi kapal kontainer -  Bloomberg
Ilustrasi kapal kontainer - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja ekspor pada September 2020 menunjukkan tren perbaikan dengan mencatatkan pertumbuhan 6,97 persen secara bulanan dan turun tipis 0,51 persen secara tahunan.

Sementara impor tercatat naik 7,71 persen secara bulanan dan masih terkontraksi dalam sebesar 18,88 persen secara tahunan. Nilai ekspor yang tercatat US$14,01 miliar dan impor US$11,57 miliar menghasilkan surplus neraca perdagangan US2,44 miliar pada September 2020.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal ekspor yang sudah jauh membaik dibandingkan impor menunjukkan pemulihan ekonomi mulai terjadi di luar negeri, tetapi di dalam negeri justru tidak.

Pasalnya, kontributor kontraksi impor di antaranya dipengaruhi oleh impor bahan baku dan barang modal yang masih turun cukup dalam, keduanya merupakan kebutuhan impor untuk industri.

"Artinya ekonomi di dalam negeri masih sakit karena pandemi Covid-19. Di luar negeri meski tidak seragam tapi sudah lebih baik, terutama negara-negara yang sudah bisa meredam pandemi, seperti China dan Malaysia," katanya kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Menurut Faisal, neraca dagang yang surplus pada September 2020 justru menunjukkan ekonomi domestik tidak terlalu sehat karena aktivitas ekonomi yang masih tertahan dan impor masih terkontraksi dalam.

Di samping itu, Faisal mengatakan ekspor yang mengalami perbaikan juga bukan pertanda yang bagus, karena ekspor yang meningkat bukan dikontribusi oleh sektor manufaktur. Hal ini justru menunjukkan kegiatan produksi di dalam negeri masih terkontraksi.

Meski demikian, Faisal memprediksi surplusnya neraca perdagangan akan tetap berlanjut hingga akhir 2020. Bahkan diprediksi neraca perdagangan pada 2020 akan mencetak surplus lebih dari US$15 miliar.

"Ini rekor. Dalam 5 tahun terakhir. Surplus tertinggi pernah di 2017 hampir US$12 miliar. Jadi [2020] ini surplusnya paling tinggi, tidak berarti sehat," tuturnya.

Faisal menambahkan, kinerja impor hingga akhir tahun pun diperkirakan masih akan mengalami kontraksi yang dalam diakibatkan oleh permintaan domestik yang masih lemah meski ada momentum Natal dan Tahun Baru.

"[Kondisi] pandemi akan tetap susah mendorong permintaan. Analoginya Lebaran kemarin. Padahal ada momen lebaran, saya rasa konsumsi tidak akan meningkat. Jika naik, tapi tidak signifikan," jelas Faisal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor impor pemulihan ekonomi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top