Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Mal Rugi Rp200 Triliun Akibat PSBB dan Resesi Ekonomi

Ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali melakukan PSBB, para pengusaha menilai langkah pemulihan sektor ritel menjadi suram.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 28 September 2020  |  15:03 WIB
Suasana tenan makanan yang sepi di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat
Suasana tenan makanan yang sepi di salah satu pusat perbelanjaan usai adanya anjuran untuk menjaga jarak sosial dan beraktivitas dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona di Jakarta, Senin (23/3/2020). Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) juga memprediksi penurunan penjualan ritel kuartal pertama 2020 turun hingga 0,4 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia memperkirakan angka kerugian akibat pemberlakukan PSBB dan penurunan daya beli bisa mencapai Rp200 triliun.

“Kami setahun itu sekitar Rp400 triliun. Kalau hanya boleh beroperasi 50 persen jadi turun Rp200 triliun logikanya. Tapi kan biayanya nggak bisa utuh,” katanya dalam dalam diskusi virtual ‘Dalam Keterpurukan Penyewa dana Pusat Perbelanjaan Menghadapi Resesi Ekonomi’, Senin (28/9/2020).

Dia merinci, para pengusaha ritel hanya boleh beroperasi hingga 50 persen untuk menjamin implementasi protokol kesehatan pada saat PSBB transisi. Pada saat ini pun, dia mengklaim para pengusaha belum bisa menutup kerugian sebelumnya.

Namun, ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk kembali melakukan PSBB  maka langkah pemulihan sektor ritel menjadi suram.

Berdasarkan catatannya, jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor ritel dan pusat perbelanjaan sebanyak 3 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen bekerja di pusat perbelanjaan.

Jika ada penurunan seperti itu, dia menyatakan pengusaha ritel pasti akan menyesuaikan operasional usahanya. Salah satunya dengan mengurangi karyawannya.

Tetapi dia menyebut para pengusaha lebih memilih merumahkan karyawan daripada melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pasalnya, ongkos untuk melakukan PHK dan merekrut kembali pekerja yang sudah memiliki skill sangat besar.

Ketika pengusaha merumahkan para karyawannya, dia mengemukakan hal itu akan berpengaruh terhadap daya beli sehingga semua lingkaran ekosistem pun menjadi terdampak.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengemukakan kondisi pusat perbelanjaan sudah mengalami kesulitan luar biasa.

“Pusat perbelanjaan sudah defisit besar sejak bulan Maret, sejak Presiden Jokowi mengumumkan Covid masuk ke Indonesia, tingkat kunjungan langsung turun dan berlangsung sampai saat ini,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pusat perbelanjaan ritel Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top