Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menristek Dorong Upaya Mewujudkan Bahan Bakar Nabati Berbasis Sawit

Pengembangan bahan bakar nabati/biofuel memerlukan skenario regulasi, insentif dan pendanaan yang sesuai.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 September 2020  |  00:47 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA  - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mendorong berbagai langkah-langkah komprehensif dan praktik terbaik untuk mewujudkan bahan bakar nabati Indonesia berbasis sawit untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

"Alih-alih bergantung pada bahan bakar fosil, Indonesia perlu mencapai bahan bakar ramah lingkungan secara bertahap dan kami berharap produksi minyak sawit dari petani skala kecil ini dapat menjadi kunci sumber energi terbarukan ini," kata Menristek Bambang dalam seminar virtual Indonesia-Brasil tentang Pengembangan Bahan Bakar Nabati: Pembelajaran dari Pengembangan Bahan Bakar Nabati Berbasis Bioetanol Brasil, Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Melalui seminar tersebut, Indonesia bisa belajar dari Brasil untuk pengembangan bahan bakar nabati termasuk skema penetapan harga, regulasi, dukungan riset, pengembangan, dan inovasi.

Bambang mengatakan Indonesia sangat berharap bisa mewujudkan bahan bakar nabati tersebut untuk menggantikan bahan bakar fosil, tentunya dimulai secara bertahap dari skala percontohan hingga akhirnya bisa memiliki pasar yang lebih luas di dalam negeri.

Pengembangan bahan bakar nabati/biofuel memerlukan skenario regulasi, insentif dan pendanaan yang sesuai.

"Semoga bisa menjadi bahan bakar 'mainstream' (utama) kita di masa depan," tuturnya.

Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil, sekitar 90-an persen dari total energi di Indonesia, sementara energi terbarukan hanya sekitar sembilan persen.

Tentu saja, itu tidak bersifat berkelanjutan sehingga Indonesia perlu mengembangkan energi alternatif dari sumber bahan bakar terbarukan yakni bahan bakar nabati.

Indonesia telah menjadi net oil importer sejak 2014. Produksi minyak bumi di Indonesia hanya sebanyak 808.000 barel per hari, tapi konsumsi jauh lebih besar yakni 1.790.000 barel per hari.

Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen kuat mendorong inovasi bahan bakar nabati biohidrocarbon sebagai solusi pemenuhan kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri yang sejak 2014 mencapai 1.790.000 barrel per hari.

Keberhasilan Pertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menguji coba produksi green diesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari di Kilang Pertamina Dumai telah memberi secercah harapan akan bangkitnya kemandirian energi terbarukan di Indonesia.

Selain bahan bakar biohidrokarbon berbasis sawit akan berperan dalam substitusi impor, bahan bakar itu juga memberi peluang pemberdayaan korporatisasi petani sawit rakyat dalam industrialisasi IVO (bahan baku biohidrokarbon) dan kilang-kilang bahan bakar biohidrokarbon "stand alone" kecil-kecil terintegrasi dengan kebun sawit yang tentunya akan meningkatkan kesejahteraan hidup para petani sawit rakyat.

Bahan bakar nabati biohidrokarbon berbasis sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan yang di Indonesia potensi jumlahnya berlimpah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahan bakar nabati bambang brodjonegoro

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top