Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Properti Mulai Menggeliat Lagi, REI Minta Relaksasi Pajak

Setelah selama beberapa bulan mengalami tekanan berat, bisnis properti residensial terlihat mulai menggeliat.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 05 September 2020  |  15:20 WIB
Foto udara perumahan di Kawasan Ciwastra, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020). Bisnis - Rachman
Foto udara perumahan di Kawasan Ciwastra, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor properti kembali bergeliat setelah 4 bulan mengalami tekanan yang cukup besar akibat pandemi Covid-19. Hal itu didukungan dengan relaksasi kebijakan pemerintah.

Namun, Real Estate Indonesia (REI) berharap agar pemerintah memberikan tambahan relaksasi untuk sektor properti.

Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida mengatakan upaya pemerintah memberikan relaksasi bagi dunia properti mulai memperlihatkan hasil.

Setelah selama beberapa bulan mengalami tekanan berat, bisnis properti residensial terlihat mulai menggeliat. Hal itu terlihat dari peningkatan minat untuk rumah di bawah Rp1,5 miliar.

“Memang dengan adanya relaksasi dan new normal, mulai ada peningkatan pertumbuhan. Jadi kalau sebelumnya yang laku hanya rumah sederhana, sekarang mulai ada peningkatan pada segmen dengan nilai di bawah Rp1,5 miliar,” ujarnya, Sabtu (5/9/2020).

Dia mengungkapka masa PSBB selama 4 bulan kemarin merupakan pukulan yang sangat berat bagi para pelaku industri properti. Adapun performa sektor properti di segmen bisnis mal turun 85 persen, hotel anjlok 95 persen, perkantoran berkurang 74,6 persen, dan perumahan komersil ada penurunan sekitar 50 persen hingga 80 persen.

"Penjualan bisa dikatakan tidak menghasilkan pendapatan, sementara mereka tetap harus menanggung beban dari sisi pengeluaran. Seperti biaya langganan listrik, cicilan bunga dan pokok ke perbankan, termasuk biaya operasional karyawan karena pemerintah melarang pemutusan hubungan kerja (PHK). Tidak ada yang free. Khusus rumah masih tertolong karena masih ada yang subsidi pemerintah," tuturnya.

Pihaknya berharap agar pemerintah memberikan tambahan relaksasi untuk sektor properti. Adapun relaksasi berupa penghapusan PPh21, pengurangan PPh Badan, Penurunan PPh final sewa dari 10 persen menjadi 5 persen, sampai penurunan PPh final transaksi dari 2,5 persen menjadi 1 persen berdasarkan nilai actual transaksi dan bukan berdasarkan NJOP (nilai jual Obyek Pajak).

Saat ini, lanjutnya, mau tidak mau pelaku industri properti harus siap melakukan perubahan sistem, strategi dan konsep hunian untuk menyesuaikan dengan habit konsumen dan kebutuhan baru konsumen di masa new normal.

"Dari sisi pemasaran, mereka harus mampu menyinergikan antara strategi virtual dengan non virtual. REI sendiri sudah berencana membuat sebuah pameran khusus yang melibatkan anggota-anggotanya yang terseleksi Oktober mendatang," tutur Paulus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti rei
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top