Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Impor Kertas Sigaret Meningkat, Pabrikan Lokal Terancam Bangkrut

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia menilai derasnya arus impor kertas sigaret pada tahun ini berisiko membuat pabrikan lokal menghentikan kinerja.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  14:56 WIB
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA - Industriawan menilai industri kertas sigaret saat ini dalam kondisi kritis. Pasalnya, volume kerat sigaret impor terus menanjak setiap tahunnya.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyatakan beberapa angota produsen kertas sigaret mengalami penurunan utilisasi pabrik. Asosiasi menduga arus volume impor yang makin deras sejak 2017 menjadi penyebab utamanya.

"Arus impor kertas sigaret pada tiga tahun terakhir ini meningkat tajam dan industri kertas rokok dalam negeri kehilangan pangsa pasar," ujar Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Dalam penelusuran Bisnis.com, volume impor selama 2016-2019 fluktuatif di kisaran 14-15 juta kilogram per tahun. Namun demikian, volume impor kertas sigaret belum pernah kembali turun ke level 14 juta kilogram sejak 2016.

Adapun, volume kertas sigaret impor pada paruh pertama 2020 telah menyentuh rekor terbaru sejak semester I/2016 atau sebanyak 10,9 juta kilogram. Angka tersebut naik 31,36 persen dari realisasi semester I/2019 yakni 8,3 juta kilogram.

Seperti diketahui, sebatang rokok memerlukan kertas sigaret sekitar 1 gram. Dengan kata lain, volume kertas sigaret impor tahun ini telah digunakan untuk memproduksi sekitar 10,9 miliar batang rokok.

Di sisi lain, produksi rokok pada tahun lalu tercatat meningkat setelah tiga tahun sebelumnya mengaami tren penurunan. Adapun, pabrikan rokok berhasil memproduksi 357 miliar batang rokok atau naik 7,53 persen secara tahunan.

Liana menyatakan peingkatan volume impor kertas sigaret menyebabkan pabrikan kertas sigaret lokal mengalami penurunan kinerja. Sebagai catatan, industri kertas merupakan industri padat karya yang sangat rentan terhadap penutunan tulisasi pabrikan.

Walakin, volume impor kertas sigaret pada 2019 mencapai 15,1 juta kilogram dan pabrikan rokok mencatatkan realisasi produksi sekitar 332 miliar batang. Dengan kata lain, kertas sigaret impor hanya berkontribusi pada 4,54 persen rokok yang diproduksi di dalam negeri.

Namun demikian, Liana menyampaikan derasnya arus impor kertas sigaret memaksa salah satu pabrikan kertas sigaret di Sumatera Utara, PT Pusaka Prima Mandiri, menghentikan produksinya. Pasalnya, Pusaka Prima telah diambil alih oleh perusahaan asing dari Eropa dan mengalihkan kapasitas terpasang perseroan ke Vietnam.

"Jadi, kertas rokoknya [nanti] dikirim [dan berpotensi] membanjiri pasar [kertas sigaret] Indonesia," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kertas
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top