Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tantangan Bahan Baku Tidak Halangi Industri Karoseri Berinovasi

Kendala lain yang harus dihadapi industri karoseri adalah adalah bahan baku atau komponen tertentu yang sebagian diantaranya masih harus diimpor.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  19:27 WIB
Model berada di depan bus produksi karoseri CV Laksana saat pelepasan ekspor perdana di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (21/3/2019). CV Laksana mengekspor empat bus eksekutif dan 10 bus tingkat (double decker) ke Bangladesh. - ANTARA/Hafidz Mubarak A
Model berada di depan bus produksi karoseri CV Laksana saat pelepasan ekspor perdana di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (21/3/2019). CV Laksana mengekspor empat bus eksekutif dan 10 bus tingkat (double decker) ke Bangladesh. - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Inovasi menjadi penting untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur, guna menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan zaman.

Salah satu industri manufaktur di Tanah Air yang sukses berinovasi adalah industri karoseri. Industri yang mulai berkembang pesat sejak 1970an itu kini telah melebarkan sayapnya hingga sejumlah negara nun jauh di sana. Maka, jangan heran jika Anda menemukan bus hasil karya karoseri merah putih mengaspal di luar negeri.

Belum lama ini Karoseri Tentrem di Malang, Jawa Timur sukses mengekspor bus sedang produksinya ke Kenya. Adapun, tahun lalu Karoseri Laksana di Ungaran, Jawa Tengah juga mengekspor bus besar dan bus tingkatnya ke Bangladesh, setelah selama satu dekade berhasil mengirimkan ratusan bus produksinya ke Fiji.

Capaian tersebut belum termasuk karoseri kendaraan barang atau kendaraan khusus seperti mobil pemadam kebakaran yang selangkah lebih maju dibandingkan dengan karoseri kendaraan penumpang dalam hal ekspor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) T.Y. Subagyo industri karoseri di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir menyadari betul pentingnya inovasi produk untuk meningkatkan daya saing di luar negeri. Selain itu, mereka juga sudah menyadari pentingnya sertifikasi, alih-alih hanya meningkatkan kualitas produknya saja tanpa melakukan hal tersebut.

“Sekarang [industri karoseri] sudah menyadari pentingnya sertifikasi produk mereka. Tidak hanya sekadar membuat produk yang kuat saja. Demikian juga untuk desainnya, saat ini desain dari karoseri di Indonesia, terutama untuk bus sudah jauh lebih baik, lebih menarik, dan orisinil,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Lebih lanjut terkait dengan sertifikasi, saat ini beberapa karoseri bus di Indonesia sedang berupaya untuk mendapatkan sertifikasi UN ECE R66 yang mengatur tentang kekuatan struktur kendaraan ketika terguling. Saat ini, Karoseri Laksana menjadi satu-satunya karoseri yang berhasil mengantongi sertifikat tersebut.

Kecepatan inovasi industri karoseri Indonesia ternyata tak diikuti oleh dukungan regulasi kendaraan bermotor, terutama berkaitan dengan standar emisi. Alhasil, produk karoseri anak bangsa sulit menembus negara-negara dengan standar emisi tinggi.

“Chasis yang tersedia disini masih [standar] Euro-II, di banyak negara standarnya sudah sampai Euro-IV, bahkan Euro-V. Akhirnya ekspor hanya bisa dilakukan ke negara-negara berkembang saja. Kalau chasisnya mereka yang datangkan, kemudian dibangun di Indonesia dan diekspor kembali rasanya tidak efisien, harga jadi tidak kompetitif,” ungkap Subagyo.

Selain itu, kendala lain yang harus dihadapi adalah bahan baku atau komponen tertentu yang sebagian diantaranya masih harus diimpor. Termasuk diantaranya adalah besi dan baja yang menjadi bahan baku utama pembuatan badan kendaraan.

Menurut Subagyo, apabila komposisi bahan baku yang diimpor bisa ditekan tentunya produk industri karoseri Indonesia akan semakin bersaing dari segi harga dengan produk dari negara lainnya.

Terakhir, inovasi yang dilakukan oleh industri karoseri di Indonesia juga perlu didukung dengan edukasi kepada konsumen di dalam negeri. Edukasi yang dimaksud adalah terkait dengan korelasi antara bobot badan kendaraan dan kekuatan strukturnya saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Pasalnya, masih banyak konsumen di Indonesia yang belum menyadari bahwa seiring dengan perkembangan teknologi, hal tersebut sudah tidak lagi sepenuhnya saling berkaitan.

“Saat ini kan bagaimana kita merancang kendaraan yang kuat tapi bobotnya ringan sehingga lebih efisien dari segi bahan bakar maupun penggunaan ban. Hal ini yang perlu diedukasi ke konsumen dalam negeri yang masih beranggapan bahwa makin berat, makin tebal, makin kuat,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top