Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Work From Home Buat Konsumsi Rayon Melonjak

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi impor serat kapas untuk kebutuhan domestik akan berkurang setidaknya 50 persen dari total volume impor biasanya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  18:21 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Serapan serat rayon diramalkan akan meningkat pada semester II/2020 walaupun dalam masa pandemi virus corona atau Covid-19.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi impor serat kapas untuk kebutuhan domestik akan berkurang setidaknya 50 persen dari total volume impor biasanya.

Volume kapas impor yang biasanya digunakan untuk pasar lokal adalah sekitar 200.000 ton per tahun.

"Kita berharap impor kapas turun untuk pemakaian dalam negeri untuk produksi produk-produk tertentu," ujar Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh kepada Bisnis, Rabu (29/7/2020).

Seperti diketahui, serat kapas biasanya digunakan untuk memproduksi pakaian jadi bagi konsumen kelas menengah ke atas. Sementara itu, serat rayon, polyester, maupun campuran keduanya saat ini umumnya digunakan untuk pakaian jadi bagi konsumen kelas menengah dan menengah ke bawah.

Tingginya penggunaan bahan baku berbasis rayon dan polyester disebabkan oleh volume produksi lokal yang tinggi dan ketersediaan yang tinggi. Alhasil, harga kain maupun benar berbasis rayon dan polyester cukup terjangkau oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tekstil dan produk tekstil (TPT).

Adapun, tren yang berkembang di pasar TPT nasional adalah meningkatnya konsumsi garmen untuk kelas menengah dan menengah bahwa, khususnya pada produk pakaian rumahan seperti piyama, kaos, daster, dan lainnya. Dengan demikian, konsumsi rayon dan polyester oleh IKM TPT meningkat di pasar lokal.

"Sekarang lebih banyak kondisi [tenaga kerja yang melakukan] kerja di rumah daripada di kantor. Jadi, demand baju kerja turun. Maka dari itu, mall masih sepi, tapi kalau pasar masih ramai," ujar Elis.

Elsi melaporkan rata-rata utilitas pabrik garmen berkualitas tinggi saat ini berada di kisaran 50 persen. Namun demikian, rata-rata utilitas industri garmen untuk konsumen menengah dan menengah bawah telah lebih dari 100 persen pada bulan ini.

"Merek bahan bakunya rayon dan [campuran] rayon-polyester,"

Terpisah, Direktur PT Asia Pacific Rayon Basrie Kamba mengatakan ajakan untuk membeli produk Indonesia perlu disiasati dengan baik. Adapun, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai asosiasi untuk dapat memfasilitasi IKM TPT mendapatkan bahan baku dengan harga dan volume yang sesuai kapasitas IKM TPT.

"Kami juga bersama beberapa anggota dan pengurus API dan Kementerian Perindustrian sedang dalam tahap finalisasi untuk mewujudkan semacam Material Center dimana para IKM/UKM akan mendapat akses untuk mendapatkan kain dengan quantity kecil," katanya.

Dalam waktu dekat, lanjutnya, APR akan meresmikan sebuah fasilitas untuk pengembangan entrepreneurship (kewirausahaan) dan keterampilan khusus para fashion designer dalam negeri, termasuk pemula.

Basrie mencatat saat ini utiltias APR berada di level 100 persen dengan kapasitas produksi mencapai 240.000 ton per tahun. Adapun, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) mencatat saat ini total produksi industri rayon nasional mencapai sekitar 800.00 ton per tahun.

Dengan kata lain, APR memproduksi sekitar 30 persen dari total produksi rayon nasional. Adapun, APSyFI melaporkan APR akan menambah kapasitas terpasangnya pada 2021 yang membuat kapasitas terpasang industri rayon nasional mencapai 1 juta ton per tahun.

"Semangat kawan-kawan [IKM] di bagian hilir industri ini di luar perkiraan orang. Mereka kecil [kapasitas produksinya], tapi banyak dan [membuat konsumsi bahan bakunya] besar sebenarnya," katanya Direktur APR Basrie Kamba kepada Bisnis belum lama ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata konsumsi nasional serat rayon pada 2019 naik sebesar 3 persen secara tahunan menjadi 357.000 ton. Adapun, volume produksi melonjak sebesar 40 persen menjadi 660.000 ton.

Di samping itu, volume impor serat rayon merosot hingga 48 persen dari 95.000 ton pada 2018 menjadi 49.000, sedangkan volume ekspor meroket 61 persen menjadi 352.000 ton.

Dengan kata lain, surplus neraca dagang industri rayon per 2019 mencapai 303.000 ton pada 2019 atau naik 146 persen dari realisasi 2018.

Basrie belum dapat meramalkan apakah konsumsi rayon di dalam negeri akan kembali meningkat seperti realisasi 2019.

Namun demikian, Basrie berharap pelaku IKM TPT dapat memanfaatkan momentum perubahan tren penggunaan kain dari kapas menjadi rayon yang terjadi baru-baru ini.

Berdasarkan data Kemenperin, setidaknya ada lebih dari 500.000 unit IKM di industri TPT pada akhir 2019. Adapun, IKM di industri TPT terdapat pada industri antara yakni sebanyak 131.000 unit dan industri garmen sebanyak 407.000 unit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil serat rayon
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top