Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utilitas Industri Kimia Dasar Anjlok, Pengurangan Tenaga Kerja di Depan Mata

Asosiasi Kimi Dasar Anorganik (Akida) menargetkan volume produksi kimia dasar pada tahun ini dapat tumbuh sekitar 0-5 persen secara tahunan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  15:13 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Utilitas industri kimia dasar pada Mei anjlok lantaran permintaan dari industri pengguna merosot. Alhasil, pengurangan tenaga kerja menjadi pilihan jika utilitas tidak membaik pada akhir semester I/2020.

Asosiasi Kimi Dasar Anorganik (Akida) menargetkan volume produksi kimia dasar pada tahun ini dapat tumbuh sekitar 0-5 persen secara tahunan. Namun demikian, pandemi Covid-19 membuat asosiasi merevisi target tersebut menjadi tumbuh negatif.

"Prediksi kami rata-rata 0-5 persen karena kami antisipasi resesi global. Ini sebelum ada pandemi Covid-19. Revisi sekarang [setelah ada pandemi Covid-19] munking malah minus. Bisa [tumbuh] 0 persen saja menurut saya hampir impossible," katanya kepada Bisnis, Senin (1/6/2020).

Michael mencatat tahun lalu pabrikan kimia dasar anorganik nasional memproduksi produk kimia dasar sebesar 7.5 juta metrik ton dengan utilitas pabrikan di level 78 persen. 

Menurunya, tahun ini produksi kimia dasar anorganik secara konsolidasi hanya mampu sebanyak 4,54 juta-6,06 juta atau turun 20-40 persen dari realisasi 2019. 

Michael menilai kondisi produksi pada Juni 2020 akan menjadi penentu mayoritas pabrikan untuk mempertahankan tenaga kerja atau tidak. Menurutnya, penetu utama perbaikan pada Juni 2020 adalah tidak adanya gelombang kedua Covid-19 pada pelonggaran PSBB.

Pihaknya mendata utilitas pabrikan pada Mei berkisar di level 30-50 persen lantaran banyak pabrikan yang memarikan mesin dan rendahnya permintaan pasar . Menurutnya, pabrikan akan mempertahankan tenaga kerja jika utilitas naik ke kisaran 50-60 persen pada akhir semester I/2020.

Pelaku industri kima pun berharap utilitas pabrikan pada kuartal II/2020 merupakan yang terendah sepanjang tahun ini. Pasalnya, lanjutnya, kuartal II secara historis menjadi kuartal dengan performa terendah sepanjang tahun.

Michael menjelaskan hal tersebut disebabkan oleh daya beli akan produk kimia dasar rendah akibat tradisi mudik lebaran dan masa masuk sekolah. Pada tahun ini, Dikhawatirkan industri kimia pada kuartal III/2020 akan digempur oleh pemberlakuan protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Jadi, [kuartal III/2020] ini double impact."

Untuk memperbaiki kinerja parbikan, daya beli masyarakat menjadi kunci agar utilitas pabrikan kimia dasar nasional dapat naik. Michael berujar naiknya daya beli masyarakat akan meningkatkan produksi industri hilir, yang pada akhirnya meningkatkan serapan produk kimia dasar.

Michael mencatat serapan produk yang akan memengaruhi serapan produk kimia dasar seperti makanan dan minuman, tekstil, serat rayon, kaca, air minum dalam kemasan, deterjen, sabun mandi, sabun cuci tangan, minyak goreng, ban, plastik, pipa, dan keramik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri tenaga kerja kimia
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top