Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sambut New Normal, Asosiasi Pengembang Perumahan Berikan Catatan Penting

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menuntut keseriusan dari semua pihak menjelang penerapan kenormalan baru khususnya untuk sektor properti.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 30 Mei 2020  |  19:58 WIB
Warga melintas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Abdurachman
Warga melintas di proyek pembangunan rumah bersubsidi di Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Rabu (27/5/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembang rumah bersubsidi menyambut baik wacana pemerintah soal penerapan kenormalan baru atau new normal dengan memberikan beberapa catatan. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Daniel Djumali mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik wacana kenormalan baru tersebut, akan tetapi masih ada hambatan yang saat ini masih mengadang.

"Setelah hampir tiga bulan masa pandemi Covid-19, yang kemudian diikuti PSBB di beberapa wilayah di Indonesia, Apersi menyambut baik langkah pemerintah menuju new normal," katanya pada Bisnis, Sabtu (30/5/2020).

Meskipun demikian, Daniel mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menuntut keseriusan dari semua pihak menjelang penerapan kenormalan baru khususnya untuk sektor properti. 

Hal ini dimaksudkan agar pengembang rumah subsidi untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa berjalan dengan optimal di masa new normal.

"Agar konsumen bisa cepat merealisasikan akad KPR [kredit pemilikan rumah], maka diperlukan keseriusan pembuat aturan, relaksasi dan percepatan," katanya.

Dia berharap agar instansi terkait memperhatikan relaksasi soal validasi pajak, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta proses pemecahan sertifikat, yang saat ini masih menjadi hambatan. 

Kemudian, perbankan juga didesak merelaksasi persyaratan calon nasabah yang selama Covid-19 ini malah semakin ketat dalam pemberian kredit khususnya untuk pegawai kontrak. 

Daniel menyatakan bahwa pada masa pembatasan sosial, sektor properti di semua lini sudah cukup menerima hantaman keras dengan nilai penurunan kurang lebih 30 persen bagi segmen MBR. "Bagi mayoritas pengembang rumah menengah atas, persentasi penurunan pasti lebih besar lagi," kata dia.

Untuk itu, pihaknya berharap bahwa jelang fase new normal ini dapat membawa sentimen positif bagi sektor properti yang didukung oleh semua pihak. Apalagi, new normal di sektor ini dinilai bakal turut menunjang program pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti pengembang properti pengembang rumah New Normal
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top