Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Sentral China Lanjutkan Pelonggaran Moneter di Tengah Pemulihan

Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Yi Gang mengatakan ekonomi dalam negeri membaik meskipun ada ketidakpastian global, dan mengindikasikan bank sentral akan melanjutkan pendekatan pelonggaran yang ditargetkan saat ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  10:18 WIB
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Guangzhou, China, terlihat dari bawah Jembatan Liede di atas Sungai Mutiara./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Yi Gang meihat ekonomi dalam negeri mulai membaik meskipun ada ketidakpastian global.

Pernyataan Yi tersebut juga mengindikasikan bank sentral akan melanjutkan pelonggaran moneter yang dijalankan saat ini.

Dalam sebuah wawancara dengan media lokal pada Selasa (26/5/2020), Yi mengatakan langkah China untuk menahan penyebaran virus dan memulai kembali perekonomian merupakan pencapaian strategis utama dan aktivitas produksi dan kehidupan orang-orang akan kembali normal

YI bahkan percaya momentum peningkatan ekonomi dalam negeri tidak akan berubah bahkan jika dihadapkan dengan gejolak global, menurut sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs resmi PBOC.

Yi juga mengatakan langkah-langkah moneter yang ditargetkan untuk memastikan adanya likuiditas yang cukup, penurunan suku bunga, serta ketersediaan kredit bunga rendah telah bekerja dengan baik.

Bank sentral berencana membuat kebijakannya lebih tepat sasaran di masa mendatang dengan alat kebijakan yang inovatif.

Pernyataan tersebut menandakan kelanjutan dari pendekatan sederhana pemerintah terhadap stimulus moneter, bahkan ketika sejumlah ekonom memperingatkan ekonomi bisa jatuh ke dalam resesi teknis kuartal ini.

China saat ini mengabaikan target pertumbuhan tahun 2020 dan berfokus pada stabilitas lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.

Berbicara tentang risiko, Yi mengatakan fundamental ekonomi global menghadapi tantangan berat. "Penurunan ekonomi global kemungkinan besar akan lebih buruk daripada krisis keuangan global pada 2008 dan bahkan lebih dari The Great Recession," ungkap Yi seperti dikutip dari Bloomberg.

YI menyerukan perhatian pada lembaga keuangan kecil karena guncangan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi membebani kualitas aset bank di dalam negeri. Bank-bank kemungkinan akan menghadapi tekanan dari kredit macet dan PBOC akan mendukung mereka untuk menambah modal.

Mengenai rencana mata uang digital PBOC, Yi mengatakan belum ada jadwal perilisan resmi dan uji coba saat ini di beberapa kota hanya bagian dari penelitian dan pengembangan rutin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china pboc
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top