Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Gula Masih Mahal, Bagaimana Dengan HET?

Pemerintah menjamin, tidak akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) gula kristal putih, demi menjaga daya beli masyarakat di tengah wabah corona.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 April 2020  |  16:57 WIB
Pabrik Gula (PG) Mojo di Sragen, Jawa Tengah, milik PT Perkebunan Nusantara IX (Persero). - JIBI/Pamuji Tri Nastiti
Pabrik Gula (PG) Mojo di Sragen, Jawa Tengah, milik PT Perkebunan Nusantara IX (Persero). - JIBI/Pamuji Tri Nastiti

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) gula dalam waktu dekat meskipun harga rata-rata komoditas tersebut di pasaran masih stabil tinggi.

Adapun berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga rata-rata bulanan gula pasir terus naik sejak Januari, dari Rp14.250/kilogram (kg) menjadi Rp18.300/kg pada April 2020. Harga tersebut lebih tinggi dari HET sebagaimana diatur dalam Permendag No.7/2020 sebesar Rp12.500 per kg.

"Belum ada penyesuaian HET. Kalau kita naikkan HET, maka akan ada inflasi dan sebagainya," kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam konferensi pers daringnya di Jakarta, Selasa (28/4/2020).

Agus berpendapat bahwa HET yang dipatok saat ini pun masih bisa diikuti oleh pelaku usaha. Biaya produksi gula pun disebutnya masih berada di bawah harga eceran yang ditetapkan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Suhanto pun mengemukakan hal serupa. Menurutnya, pemerintah belum memilih opsi menaikkan HET dengan pertimbangan kondisi perekonomian di tengah pandemi Covid-19.

"Dalam kondisi Covid-19 seperti ini kita juga memperhatikan situasi ekonomi dan sosial masyarakat, jangan lagi membebani masyarakat dengan HET naik," kata Suhanto.

Dia pun mengemukakan bahwa HET saat ini masih bisa diterapkan, terutama penjualan di pasar ritel modern yang masih bisa menyesuaikan dengan harga acuan Rp12.500 per kg.

Terlepas dari kondisi ini, Suhanto memastikan bahwa evaluasi terhadap harga pokok petani (HPP) dan HET pun terus dilakukan pihaknya. Sebelumnya, usulan untuk evaluasi kembali disuarakan oleh kalangan petani menyusul meningkatnya biaya produksi.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pada pekan lalu meminta adanya evaluasi terhadap HPP untuk komoditas gula. Sempat mengusulkan perubahan HPP gula dari Rp9.100/kg menjadi Rp12.000/kg, usulan tersebut kembali direvisi menjadi Rp14.000/kg dengan pertimbangan meningkatnya biaya pokok produksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula harga gula harga eceran tertinggi
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top