Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Sawit Turun, Serapan Domestik Diprediksi Naik Selama Ramadan

Pelaku usaha industri sawit mencatat adanya penurunan ekspor selama Januari sampai Februari dibandingkan realisasi pada 2019 lalu. Kendati demikian, serapan komoditas ini diperkirakan bakal meningkat seiring meningkatnya produksi jelang Ramadan dan Idulfitri.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 21 April 2020  |  20:20 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di dalam sebuah pabrik minyak sawit di Sepang, di luar Kuala Lumpur, Malaysia. - REUTERS / Samsul Said
Seorang pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di dalam sebuah pabrik minyak sawit di Sepang, di luar Kuala Lumpur, Malaysia. - REUTERS / Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha industri sawit mencatat adanya penurunan ekspor selama Januari sampai Februari dibandingkan realisasi pada 2019 lalu. Kendati demikian, serapan komoditas ini diperkirakan bakal meningkat seiring meningkatnya produksi jelang Ramadan dan Idulfitri.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengemukakan penurunan ekspor dalam dua bulan pertama 2020 cukup signifikan, yakni mencapai 20 persen secara year on year (yoy). Pada Januari, volume ekspor tercatat berjumlah 2,39 juta ton, sementara pada Februari sebesar 2,53 juta ton.

"Ekspor ke China selama Januari dan Februari 2020 lebih rendah 500.000 ton dibanding tahun lalu, ke Afrika turun 250.000 ton dan ke India 188.000 ton lebih rendah," ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2020).

Penurunan ekspor ke China diperkirakan akibat wabah COVID-19 dan penurunan di Afrika dipicu oleh harga CPO yang tinggi pada periode tersebut. Sedangkan penurunan di India diperkirakan karena adanya keraguan importir untuk membuat kontrak pembelian untuk pengiriman Februari menyusul rencana penetapan kuota impor minyak olahan kelapa sawit oleh pemerintah India.

Harga CPO untuk kontrak penjualan Februari 2020 sendiri tercatat berada di level US$600 per ton, turun dibandingkan harga pada Januari yang berada di angka US$700 per ton.

Dari segi konsumsi dalam negeri selama Februari 2020, Gapki mencatat adanya kenaikan 50.000 ton dibanding bulan sebelumnya dari 1,47 juta ton menjadi 1,52 juta ton. Kenaikan yang besar terjadi pada serapan untuk biodiesel sebanyak 70.000 ton, sedangkan untuk pangan turun 15.000 ton.

Mukti memperkirakan konsumsi dalam negeri akan meningkat dalam dua sampai tiga bulan ini menyusul potensi kenaikan aktivitas industri minyak goreng, margarin, biskuit untuk persiapan menghadapi puasa dan lebaran.

Di tengah pandemi COVID-19, Mukti pun memastikan operasional industri minyak sawit tetap berjalan normal sehingga aktivitas ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri dapat terus berlanjut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak ekspor cpo covid-19
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top