Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Sawit Lakukan Efisiensi

Selain efisiensi, pihaknya turut berupaya untuk menyetop pembelian buah sawit dari luar jika nantinya tangka stock sudah tidak bisa menampung.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 13 April 2020  |  20:24 WIB
Petani membawa kelapa sawit hasil panen harian di kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (11/5). Bisnis - Nurul Hidayat
Petani membawa kelapa sawit hasil panen harian di kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (11/5). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri sawit terus melakukan efiisensi secara maksimal agar industri sawit bisa tetap bertahan.

Sekjen Gabungan Pengusaha kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta meski industri sawit mengalami imbas yang cukup besar akibat wabah Covid-19, tapi pihaknya memastikan belum ada penutupan pabrik sampai saat ini.

Kanya mengatakan pihaknya berupaya melakukan efisiensi secara maksimal agar industri sawit bisa tetap bertahan. Selain efisiensi, pihaknya turut berupaya untuk menyetop pembelian buah sawit dari luar jika nantinya tangka stock sudah tidak bisa menampung.

“Untuk bertahan tentu saja melakukan efisiensi besar-besaran, pengaturan kembali rencana cash flow termasuk merealokasi peruntukan dengan merevisi prioritas budget, menyiapkan beberapa alternatif skenario krisis dan solusinya,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (13/4/2020).

Menurut Kanya, meski dalam masa sulit, industri sawit belum memiliki rencana untuk melakukan PHK karyawan.

Di sisi lain, Gapki sedang memperjuangkan agar para pekerja atau karyawan baik yang di kebun ataupun yang di pabrik mendapatkan tunjangan tambahan untuk kelompok yang dipandang lemah dan rentan terhadap krisis.

"PHK adalah pilihan terakhir, saya tidak mendengar dari teman-teman sesama industri yang berencana melakukan PHK," tegasnya.

Adapun, Gapki berharap dengan kondisi saat ini pemerintah memberikan insentif bagi industri sawit. Menurut Kanya, insentif yang dikeluarkan pemerintah untuk meringankan beban karyawan masih kurang merata.

Dia mencontohkan, tunjangan PPh21 perusahaan yang biasanya disetorkan kepada negara disarankan untuk dibayarkan kepada karyawan pabrik saja, sementara perusahaan sawit bentuk manajemennya beragam ada yang satu atap ada yang terpisah antara kebun dan pabrik.

"Jadi jika hal ini diberlakukan maka akan terdapat pembedaan perlakuan terhadap sesama karyawan dalam satu group perusahaan. Justru hal ini dapat memicu permasalahan baru di lapangan," jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, insentif yang diharapkan lagi adalah bantuan strategi dan solusi mengatasi berkurang drastisnya ekspor sawit. Hal ini karena pasar global sedang merata terkena pandemic korona yang berakibat terhadap penurunan permintaan.

"Tetapi kan industri ini jangan sampai mati atau berhenti, lebih dari 70 persen produksi sawit Indonesia selama ini adalah untuk diekspor. Untuk itu, perlu diberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penyerapan lebih besar di dalam negeri selain untuk biodiesel, tapi juga untuk energi terbarukan yang lain misalnya pembangkit listrik yang saat ini belum dapat dijalankan, antara lain adanya birokrasi yang belum tuntas," papar Kanya.

Menurut dia, dalam keadaan darurat seperti ini, hambatan birokrasi juga perlu dipangkas. Sementara itu untuk ekspor, selain semakin terbatasnya armada, peningkatan biaya transportasi dan ekspedisi kapal yang melonjak signifikan agar diturunkan atau mendapat kompensasi atas perbedaan antara sebelum dan pada masa wabah ini, terutama untuk pengangkutan bahan kebutuhan pokok.

"Sawit sebagian besar memang untuk kebutuhan pangan, selain untuk kebutuhan bahan dasar bahan-bahan pembersih diri dan rumah tangga seperti sabun, shampoo, diterjen, pembersih rumah juga alat-alat rumah tangga," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit kelapa sawit
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top