Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kalangan Industri Proyeksikan Investasi Lanjutkan Kontraksi

Pelaku industri memproyeksikan realisasi investasi pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu. Adapun, tren dominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) diperkirakan berlanjut hingga akhri tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 April 2020  |  19:10 WIB
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil - Reuters
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri memproyeksikan realisasi investasi pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu. Adapun, tren dominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) diperkirakan berlanjut hingga akhri tahun ini.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat rata-rata nasional utilitas parik baja saat ini di kisaran 20 persen - 25 persen. Asosiasi meramalkan penanaman modal asin (PMA) pada tahun ini akan stagnan lantaran investasi pada industri baja sebelumnya belum beroperasi secara optimum.

"Belum ada perubahan signifikan [pada tren pananaman modal pada industri baja] karena PMA yang dierikan izin operasi [sebelumnya] belum fully operated," kata Wakil Ketua UmumIISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Senin (20/4/2020).

Ismail menyatakan perlu adanya penyesuaian pembayaran tarif energi saat pandemi Covid-19 berlangsung. Menurutnya, hal tersebbut dapat meringankan beban pabrikan agar dapat tetap beroperasi dan menjaga arus PMDN.

Ismail sebelumnya telah meminta kepada dua badan usaha milik negara (BUMN) tersebut untuk meniadakan penggunaan rekening minimum (RM) setidaknya hingga pandemi berakhir atau sekitar 3-4 bulan ke depan. Adapun, penghitungan RM mengasumsikan pabrikan mengonsumsi minimum listrik selama 40 jam.

"Kalau tidak dipakai, harus tetap bayar sejumlah [40 jam pemakaian]. Itu sangat memberatkan, [sementara] itu [utilitas pabrikan nasional] sudah di 20 persen. Sebagian [besar pabrikan] tidak jalan [proses produksinya]," katanya.

Seperti diketahui, sebuah pabrikan setidaknya harus memiliki utilitas di atas 40 persen agar tetap bisa membayar beban produksi. Ismail menyatakan sebagian pabrikan masih menjalankan pabrikan walau utilitas di bawah 40 persen untuk menghindari rugi total.

Pasalnya, lanjut Ismail, kondisi gudang industri saat ini sudah penuh lantaran pasar baja nasional susut sekitar 80 persen. Oleh karena itu, ujarnya, sebagian besar pabrikan otomatis memilih mengurangi kapasitas maupun menghentikan produksi.

Ismail menyampaikan pabrikan saat ini sudah merumahkan sebagian besar tenaga kerja dan masih membayarkan beban tenaga kerja. Namun demikian, lanjutnya, pabrikan akan mengambil jalan pemutusan hubungan kerja (PHK) jika kondisi pasar tidak membaik hingga akhir semester I/2020.

"Potensi [PHK} besar. Industri baja itu bukan padat karya, tapi padat modal. Begitu tidak ada jalan, beban itu besar sekali," ucapnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Dorojatun Sanusi mengatakan tidak akan ada investasi baru pada industri farmasi pada tahun ini. Pasalnya, menurutnya, utilitas pabrikan farmasi saat ini asih rendah.

Dorojatun mencatat saat ini utilitas pabrikan farmasi berada di sekitar posisi 60-65 persen. Dengan kata lain, lanjutnya, pabrikan masih memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi secara organik tanpa adanya tambahan investasi.

Seperti diketahui, investasi pada idnustri farmai secara umum dibagi kepada tiga formasi yakni untuk penelitian, produksi, dan bahan baku. Adapun, investasi terkait kegiatan penelitian pada umumnya memakan nilai yang paling besar.

Dorojatun menyatakan pihaknya belum menghitung nilai investasi yang akan dikucurkan pada kegiatan penelitan. Namun demikian, DOrojatun memastikan pada tahun ini tidak akan ada investasi baru pada industri farmasi.

"[Investasi] manufaktur ya stabil, kapasitasnya masih berleih," ujarnya kepada Bisnis.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan dominasi PMDN masih akan berlanjut hingga akhir tahun, lantaran kepercayaan investor asing masih rendah terhadap keadaan industri tekstil nasional saat ini.

Selain itu, Redma menjelaskan investasi pada tahun ini adalah pembelian mesin untuk memproduksi bahan baku alat pelindung diri (APD) dan masker. Adapun, investasi tersebut akan dilakukan oleh pabrikan APD dan masker eksisting.

Redma meramalkan akan terjadi kontraksi pertumbuhan realisasi investasi pada akhir tahun ini. Namun demikian, lanjutnya, besaran kontraksi tersebut tidak akan besar lantaran jumlah investasi yang masuk ke industri tekstil relatif kecil.

"Dari 2018-2019, pertumbuhan investasi ke industri tekstil tidak terlalu signifikan. [Jadi,] secara year-on-year tidak akan ada banyak [perubahan] kalau di [industri] tekstil," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik baja pabrik tekstil Investasi Manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top