Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pakar Yakin Sektor Properti Akan Membaik di Tahun Ini

Sejumlah kebijakan dan insentif di sektor perumahan diyakini akan memberikan dampak positif terhadap industri properti.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 10 Maret 2020  |  16:05 WIB
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020). Organisasi Real Estate Indonesia (REI) menyatakan, kuota rumah subsidi yang disalurkan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) sebanyak 86.000 unit rumah diperkirakan akan habis pada April 2020. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi
Foto udara perumahan bersubsidi di Griya Panorama Cimanggung, Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (8/3/2020). Organisasi Real Estate Indonesia (REI) menyatakan, kuota rumah subsidi yang disalurkan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP) sebanyak 86.000 unit rumah diperkirakan akan habis pada April 2020. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Pakar properti optimistis industri properti akan mulai pulih di tahun ini menyusul adanya serangkaian insentif dan kebijakan yang digelontorkan sejak beberapa waktu belakangan ini.

Direktur Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit menyatakan bahwa bagian terbesar dari industri properti di Indonesia bisa dilihat dari subsektor perumahan alias residensial.

Pengamat bisnis properti itu menyatakan bahwa memang berdasarkan data kuartal IV/2019 yang dirilis Bank Indonesia permintaan properti masih cenderung melambat jika dibandingkan dengan kuartal III/2019. 

Dikutip dari data Bank Indonesia (BI), penjualan properti residensial pada kuartal IV/2019 mengalami penurunan 16,33 persen (quartal to quartal). Padahal pada kuartal sebelumnya sempat tumbuh 16,18 persen (quartal to quartal). BI mencatat, penurunan penjualan properti terjadi pada seluruh tipe rumah.

Demikian juga dengan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia yang menunjukkan adanya perlambatan pada kuartal IV/2019. 

Panangian juga menyatakan bahwa berdasarkan laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pertumbuhan kredit KPR tahun 2019 cenderung melambat dibandingkan dengan tahun 2018 lalu.

Hanya saja, dia mengatakan bahwa gambaran tersebut sebetulnya bisa berbeda dengan kondisi saat ini setelah adanya kebijakan dan insentif yang diberikan.

"Tapi kalau tahun 2020 memang akan mulai pulih [industri properti]," kata dia saat dihubungi, Selasa (10/3/2020).

Salah satu faktor pendorong yang mengindikasikan pasar properti akan pulih adalah penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen dari yang sebelumnya sebesar 5 persen.

Tak hanya itu, BI juga sebelumnya telah melakukan pelonggaran loan to value (LTV) sejak Desember 2019 lalu, yang juga jadi stimulus cukup baik bagi pendorong permintaan sektor properti.

Namun demikian, Panangian menyatakan bahwa untuk semester dua tahun ini pasar properti masih tetap membutuhkan stimulus dari BI agar kembali menurunkan BI7DRRR ke angka 4,25 persen.

"Jadi seharusnya sektor properti khususnya perumahan sudah mulai pulih pada kuartal kedua tahun ini dan kondisi ini akan terus mengalami perbaikan ke kuartal tiga dan seterusnya," ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya stimulus yang sebelumnya telah diberikan tersebut seharusnya dapat direspon dengan cepat oleh perbankan dalam menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

Terlebih, data BI mencatat bahwa 20 persen responden menyatakan bahwa suku bunga KPR yang tinggi menjadi faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan penjualan properti residensial masih terhambat. 

Selain itu, berdasarkan data laporan bulanan bank umum, rata-rata suku bunga KPR pada triwulan IV/2019 per Desember 2019 sebesar 9,12 persen. 

Faktor Iain yang menjadi penghambat penjualan antara Iain perizinan dan birokrasi dalam pengembangan Iahan sebesar 15,9 persen, proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR di perbankan sebesar 14,8 persen, dan permasalahan pajak 13,7 persen.

Panangian mengharapkan agar stimulus yang sudah diberikan bisa dapat dikoreksi kembali agar upaya permintaan KPR bisa meningkat lebih tinggi pada tahun ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti kpr pasar properti pembiayaan perumahan
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top