Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembangan Hunian TOD Akan Semakin Marak di Luar Jabodetabek

Pembangunan proyek transportasi di beberapa daerah akan mendorong penyebaran proyek hunian berkonsep TOD yang sebelumnya hanya terfokus di Jabodetabek.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 19 Februari 2020  |  18:04 WIB
Pengunjung mencoba virtual reality disamping maket hunian terintegrasi transportasi Stasiun Rawa Buntu yang dibangun dengan konsep Transit oriented Development (TOD) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (10/12/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Pengunjung mencoba virtual reality disamping maket hunian terintegrasi transportasi Stasiun Rawa Buntu yang dibangun dengan konsep Transit oriented Development (TOD) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (10/12/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Adanya rencana pemerintah untuk mulai mengembangkan transportasi berbasis rel di luar Jabodetabek bisa menjadi peluang besar bagi pengembang properti untuk mengembangkan kawasan hunian berorientasi transit.

Senior Director Leads Property Darsono Tan mengatakan keberadaan transportasi akan sangat membantu memacu perkembangan suatu kota.

Dengan rencana pengembangan infrastruktur transportasi yang ada, dia menilai kesempatan pengembang untuk melakukan pengembangan properti dengan konsep transit oriented development (TOD) semakin terbuka lebar.

“Jadi nanti bisa di setiap stasiun di mana keretanya berhenti, akan punya potensi untuk dibangun commercial hub baru. Semisal ada MRT, di situ kurang bisa dibuat apartemen, ada ritel kecil atau mal kecil, dan tentunya harga tempat tinggal disana juga jadi tinggi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (19/2/2020).

Pengaruh keberadaan transportasi baru, imbuh Darsono, juga akan memberikan dampak besar terhadap permintaan properti disekitarnya. Pada umumnya, pengembangan TOD akan menjadi satu kawasan yang didalamnya selain terdapat hunian, juga akan ada pusat belanja, hotel, dan apartemen.

Darsono menyebut, untuk pengembangan menjadi kawasan, maka yang paling potensial adalah TOD di kota besar.

“Misalnya ada kereta cepat Jakarta ke Jawa Timur, melewati beberapa kota, itu pasti bisa ada yang menjadi titik pengembangan TOD yang baru. Kalau berhenti di stasiun yang kecil, di desa, ya mungkin harga tanahnya naik tapi jelas tidak cocok dibangun komersial,” ujarnya.

Darsono menegaskan, pusat pemberhentian kereta akan jadi satu magnet terbaru dalam pengembangan kota, yang akan menjadi umpan untuk memancing permintaan properti.

Dengan semakin banyak pengembang yang melakukan pengembangan TOD, salah satu strategi yang bisa digunakan pengembang untuk menghadapi persaingan adalah dengan bekerja sama. Baik dengan sesama pengembang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dengan pengembang swasta.

“Kalau semakin banyak justru bagus, persaingan jadi sehat, tidak monopoli dan jadi menyediakan lebih banyak pilihan pada calon konsumen. Kemudian dengan membawa nama BUMN, harusnya jadi lebih terjamin bahwa pengembangannya tidak akan mangkrak,” jelasnya.

Di sisi lain, Darsono mengimbau kalau saat ini konsumen lebih pintar dan kritis. Menurutnya, para konsumen akan mengecek terlebih dulu konsep pengembangannya, perizinannya, serta reputasi dari pengembangnya sebelum memutuskan untuk membeli hunian.

“Sekarang jualan enggak mungkin baru gambar terus langsung habis. Cenderungnya yang baru launching, terjual 30 persen saja sudah syukur. Salah satu siasatnya adalah bagaimana memberikan cara pembiayaan properti yang mudah, pasti menarik,” katanya.

Untuk pertumbuhan harga properti dan lahan jika sudah menjadi TOD, kata Darsono, sudah pasti akan mengalami kenaikan harga sekitar 10 persen hingga 20 persen. Dengan demikian, pengembangan TOD di luar Jabodetabek ke depannya juga bisa menjadi peluang mencari untung bagi pengembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti transit oriented development
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top