Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Populasi Dipangkas, Harga Ayam Diprediksi Membaik

Kalangan peternak mandiri memperkirakan harga ayam ras broiler bakal stabil di atas biaya pokok produksi sepanjang Februari mendatang sebagai dampak kebijakan pemangkasan populasi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 24 Januari 2020  |  12:35 WIB
Peternak menimbang ayam broiler jenis pedaging yang dijual murah seharga Rp8.000 per kilogram di sentra peternakan ayam broiler di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Destyan Sujarwoko
Peternak menimbang ayam broiler jenis pedaging yang dijual murah seharga Rp8.000 per kilogram di sentra peternakan ayam broiler di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan peternak mandiri memperkirakan harga ayam ras broiler bakal stabil di atas biaya pokok produksi sepanjang Februari mendatang sebagai dampak kebijakan pemangkasan populasi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kepada para perusahaan pembibitan.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) wilayah Jawa Tengah Pardjuni mengemukakan tren permintaan ayam potong memang cenderung rendah pada kuartal I/2020. Rendahnya harga pun turut dipacu dengan pasokan ayam yang melampaui permintaan.

Ditjen PKH sebelumnya mengeluarkan kebijakan penarikan hatchery egg (HE) atau telur tetas ayam pedaging siap potong (final stock/FS) di tingkat pembibitan guna menjaga stabilitas pasokan ayam potong.

Upaya stabilisasi populasi ini ditempuh dengan penarikan telur tetas fertil (yang sudah dibuahi) berusia 19 hari sebanyak 13 juta butir selama periode sebelumnya 2–21 Januari. Pemangkasan sendiri diperkirakan bakal berdampak pada berkurangnya produksi day old chicken (DOC) sebanyak 37,05 juta ekor pada Februari mendatang.

Pardjuni mengemukakan pemerintah telah memutuskan untuk memperpanjang imbauan penarikan telur tetas sampai 31 Januari mendatang. Dengan demikian, dampak pengendalian populasi terhadap stabilitas harga setidaknya akan dirasakan sampai akhir Februari hingga awal Maret.

"Perkiraan kami harga akan membaik sebulan terhitung sejak kebijakan dikeluarkan. Di sisi lain kami juga mengurangi chick in [masuknya anak ayam usia sehari] untuk mengantisipasi rendahnya permintaan," kata Pardjuni kepada Bisnis, Kamis (23/1/2020).

Selain menghadapi tantangan harga jual yang turun, Pardjuni pun mengemukakan peternak di sejumlah wilayah menghadapi permasalahan tumbuh kembang ayam yang tak maksimal. Dia menyatakan tingkat kematian ayam di kandang cenderung meningkat dalam sebulan terakhir.

"Kemungkinan besar karena faktor cuaca dan kualitas ayam yang tidak maksimal karena telur yang diproduksi indukan juga menurun kondisinya," ujar dia.

Selain mengeluarkan kebijakan pemangkasan, secara bersamaan dilakukan pula tunda setting HE sebanyak 15 juta butir per minggu yang pelaksanaannya dilakukan berdasarkan evaluasi pelaksanaan pemangkasan HE. 

Upaya pengendalian populasi di sisi hulu juga dilakukan dengan pelaksanaan afkir dini pada indukan kelas Parent Stock (PS) berumur di atas 55 minggu mulai 24 Januari sampai 7 Februari mendatang. Pelaksanaan afkir PS dilakukan dalam dua tahap, yakni pada PS jantan dan cadangannya di awal dan diikuti oleh afkir betina PS. 

Adapun penghitungan jumlah ayam PS yang diafkir didasari dengan beban pengurangan produksi DOC FS yang dikonversikan ke produksi PS menurut umur.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peternak ayam kementan
Editor : Lucky Leonard

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top