PROYEK JALAN TOL PADANG—SICINCIN : Warga Inginkan Kejelasan Soal Harga

Warga siap menyerahkan lahan untuk pembangunan jalan tol Padang—Sicincin selama penggantian yang diberikan pemerintah sepadan.
Rayful Mudassir dan Rivki Maulana
Rayful Mudassir dan Rivki Maulana - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  08:28 WIB
PROYEK JALAN TOL PADANG—SICINCIN : Warga Inginkan Kejelasan Soal Harga
Sejumlah petugas mengamati lahan proyek jalan tol Padang-Sicincin yang sudah dibebaskan. - Foto/foto: Arief Hermawan P.

Bisnis.com, PADANG PARIAMAN — Progres pembangunan jalan tol Padang—Sicincin terbilang lambat. Padahal, Presiden Joko Widodo, pada Februari 2018, telah melakukan pemancangan tiang ruas pertama dari lima ruas proyek jalan tol Padang—Pekanbaru tersebut.

Masalah pembebasan lahan yang belum tuntas karena persoalan harga menjadi penyebab utama mengapa pembangunan jalan tol Padang—Sicincin sepanjang 30,4 kilometer yang ditugaskan pemerintah kepada PT Hutama Karya itu tak kunjung bergerak.

Ketidakjelasan terkait dengan harga ini juga menerpa penduduk di Korong Padang Laweh, masih di Nagari Sicincin.

Wali Korong Padang Laweh Irwandi mengatakan bahwa ada sekitar 100 kepala keluarga yang terdampak rencana pembangunan jalan tol.

Menurutnya, sejauh ini, warga sudah mengikuti sedikitnya enam kali musyawarah, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Irwandi menekankan bahwa belum ada kejelasan terkait dengan harga lahan yang akan dibayarkan.

"Selama ini, kami hanya ditanya setuju atau tidak setuju. Tidak pernah dijelaskan harga tanahnya sekian. Kami takut ini seperti jebakan saja," terang Irwandi kepada Bisnis, Selasa (3/12/2019).

Warga melintas di antara lahan pertanian yang akan dilewati trase jalan tol Padang-Pekanbaru ruas Padang-Sicincin di kawasan Padang Pariaman, Sumatra Barat, Selasa (3/12/2019).

Erina Maizar, warga Padang Laweh yang memiliki lahan sekitar 1 hektare, juga menginginkan harga tanah dihargai dengan pantas.

Dia menjelaskan bahwa harga yang sepadan bisa menjadi modal untuk mencari tanah lain atau modal usaha.

Lahan milik Erina bukanlah lahan tidur. Saat ini, lahan milik Erina masih produktif dan ditanami karet.

Dia menegaskan bahwa pemilik lahan seperti dirinya siap menyerahkan lahan untuk pembangunan jalan tol Padang—Sicincin selama penggantian yang diberikan pemerintah sepadan.

"Kami kan sudah baca, sudah lihat janji presiden itu. Enggak ada yang dibilang ganti rugi, yang ada ganti untung," katanya.

Belum terang soal harga, warga Sicincin sebelumnya juga menolak pembangunan jalan tol melewati kawasan produktif. Penolakan serupa juga terjadi di Nagari Singguling, Kecamatan Lubuk Alung.

Kawasan produktif, selain menjadi lokasi permukiman padat juga menjadi pusat kegiatan ekonomi Nagari Sicincin. Ade menunjukkan kepada Bisnis lokasi permukiman padat yang bakal tergusur bila mengacu pada trase yang lama.

Berdasarkan pengamatan Bisnis, di tepi jalan lintas Padang—Sicincin sepanjang 1,5 kilometer yang ditunjukkan Ade sarat dengan pertokoan, rumah makan, kantor cabang perbankan, dan pasar tradisional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hutama karya, pembebasan lahan, jalan tol padang-pekanbaru

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top