Hingga Akhir 2019, Okupansi Hotel di Indonesia Diprediksi Hanya Capai 52%

Para pengusaha perhotelan memprediksi tingkat hunian kamar (okupansi) kamar hotel di tingkat nasional hanya mencapai 52% hingga akhir tahun ini.  
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  12:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Para pengusaha perhotelan memprediksi tingkat hunian kamar (okupansi) kamar hotel di tingkat nasional hanya mencapai 52% hingga akhir tahun ini.  

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani menjelaskan momentum libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 diyakini tidak akan memberi banyak kontribusi terhadap kenaikan okupansi hotels.

“Kalau sepanjang 2019 sampai hari ini, secara nasional, belum keluar [angka okupansi hotel di Indonesia]. Namun, proyeksinya sih sekitar 51%—52% karena [realisasi okupansi hotel pada] semester pertama[2019]  jelek banget,” kata Hariyadi kepada Bisnis.com, Selasa (3/12/2019).

Untuk hotel berbintang empat dan lima, Hariyadi mengatakan  biasanya pada akhir tahun pengusaha hotel akan terbantu dengan tamu yang menyewa functional room.

“Kalau strategi akhir tahun sih biasa saja, paling mereka [hotel berbintang] bikin  event sendiri atau ballroom mereka disewa untuk bikin event. Nah kalau okupansi itu relatif, kalau dia bintang empat dan lima yang punya ballroom besar dia relatif terbantu dengan acara mereka,”imbuhnya.  

Adapun, lanjutnya, untuk hotel bintang tiga, dua, dan satu akan lebih menggantungkan pada kunjungan tamu yang berlibur pada akhir tahun.

“Kalau bintang tiga hingga satu, mungkin ya terisi sih lumayan juga, tetapi mereka lebih bergantung pada orang yang datang, overall okupansinya di atas 80%.”

Dia menuturkan adanya tren penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) memang sangat memengaruhi tingkat okupansi hotel, khususnya untuk perhotelan di Bali dan Yogyakarta.

Dalam hal ini, dia meminta agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat ikut turun tangan mengatasi penurunan jumlah wisman tersebut.

“Itu kan satu kesatuan, artinya tidak bisa memasarkan hotelnya sendiri. Harus ada bantuan dari pemda dan pempus. Apalagi ini juga akibat dampak perang dagang AS-China sehingga banyak wisman yang menahan diri untuk tidak traveling.”

Sebab itu, dia berharap pemerintah juga mulai mengaktifkan kembali Badan Promosi Pariwisata Indonesia.

Selama ini, penyumbang terbesar industri perhotelan didapat dari pemerintah melalui Meeting, Incentives, Conferncing, and Exhibitions (MICE). Namun, Hariyadi menilai industri perhotelan tak bisa bergantung terus menerus pada pemerintah, sehingga harus ada upaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik.

Sementara itu, public relations manager Grand Inna Bali Beach Ayu Dewi menuturkan sepanjang 2019 okupansi hotel tersebut diperkirakan pada kisaran 60%—70%.

Ayu menuturkan untuk menyambut libur akhir tahun dan Natal, pihaknya menyiapkan berbagai macam promo untuk menarik para wisatawan.

“Dengan promo special dinner di pengujung tahun, kami harapkan dapat meningkatkan para tamu utk tinggal dan menginap di hotel kami,” kata Ayu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Oktober 2019mencapai rata-rata 56,77 % atau turun 2,07 poin dibandingkan TPK Oktober 2018 yang sebesar 58,84 %. Sementara, jika dibanding dengan TPK September 2019 yang tercatat 53,52 %, TPK Oktober 2019 mengalami kenaikan sebesar 3,25 poin.

TPK tertinggi tercatat di Bengkulu sebesar 68,97 %, diikuti Bali sebesar 63,30 %, dan Lampung sebesar 62,99 %, sedangkan TPK terendah tercatat di Papua yang sebesar 42,87 %.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, perhotelan, okupansi hotel

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top