Menristek Dorong Konten Lokal LRT Jabodebek 100 Persen, Mimpikah?

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyatakan dorongan itu melalui penguasaan teknologi dalam mendukung kemandirian teknologi untuk kemajuan industri perkeretaapian Indonesia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 November 2019  |  14:48 WIB
Menristek Dorong Konten Lokal LRT Jabodebek 100 Persen, Mimpikah?
Proses pengangkatan kereta pertama LRT Jabodebek di pitstop Stasiun Harjamukti, Minggu (13/10/2019). - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Riset dan Teknologi mendorong agar penggunaan tingkat komponen dalam negeri untuk pembuatan dan pengembangan kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek mencapai 100 persen.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyatakan dorongan itu melalui penguasaan teknologi dalam mendukung kemandirian teknologi untuk kemajuan industri perkeretaapian Indonesia.

Dia optimistis industri perkeretaapian Indonesia dapat mandiri melalui penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam negeri. Namun, Menristek menegaskan memang membutuhkan waktu untuk menguasai dan mengembang manufaktur untuk menunjang perkeretaapian Indonesia, dan Indonesia terus bergerak menuju kemandirian teknologi perkeretaapian.

"Khususnya lokomotifnya, motor listriknya dan rem-nya yang masih harus impor, sisanya dibuat sendiri. Artinya, kita terus memperbaiki untuk meningkatkan lokal konten," katanya dalam peninjauan uji coba LRT Jabodebek dari Stasiun Cibubur ke Stasiun Ciracas di Stasiun LRT Cibubur di Kecamatan Cimanggis, Kota Depok seperti dikutip Antara, Kamis (28/11/2019).

Menristek Bambang menuturkan para teknisi dan karyawan PT INKA sedang meningkatkan kemampuan teknologi, demikian juga Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk penguasaan teknologi kereta cepat.

Menurutnya, LRT Jabodebek ditargetkan beroperasi penuh pada Juni 2021. "Jadi nanti kalau kereta cepat juga beroperasi kita harapkan tidak lagi kita bergantung kepada semata-mata dari yang luar negeri tapi kita sudah harus mulai menguasai teknologinya itu sendiri dan juga sampai kepada manufaktur," ujarnya.

Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dari kereta LRT Jabodebek masih 42 persen dikarenakan komponen utama kereta yaitu sistem propulsi, train control and management system (TCMS) dan sistem pengereman masih impor.

"Gerbongnya dibuat oleh PT INKA sedangkan rel-nya oleh PT Adhi Karya. Bahwa masih ada teknologi yang dibeli dari luar negeri itu wajar. Kita sedang dalam proses penguasaan teknologi agar kandungan dalam negerinya meningkat," katanya.

Pengembangan teknologi dan inovasi di bidang perkeretaapian juga masuk dalam prioritas riset nasional untuk 5 tahun ke depan.

Dalam mengejar kemandirian teknologi perkeretaapian, Menristek mengatakan dalam dunia yang dinamis, tidak harus mengejar 100 persen teknologi dari dasar tapi mengejar mayoritas penguasaan teknologi.

"Dan penguasaan teknologi bukan pekerjaan semalam. Butuh waktu dan kita juga harus punya infrastrukturnya. Contohnya, laboratorium pengujiannya harus kita bangun juga, misalkan untuk kereta cepat," tuturnya.

Ke depan, juga perlu dibangun laboratorium pengujian seperti untuk moda raya terpadu (MRT), LRT, kereta commuter, kereta antar kota, bahkan untuk kereta cepat, jika ingin mengejar penguasaan teknologi di bidang ini.

"Nantinya, kita juga harus menguasai teknologi kereta cepat, di situ pasti dibutuhkan laboratorium pengujian yang banyak, reverse engineering juga harus kita lakukan dan itu butuh waktu," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tkdn, lrt jabodebek

Sumber : Antara

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top