Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kelas Menengah Atas dan Belanja Pemerintah Jadi Andalan Pertumbuhan

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi kumulatif 2019 tetap 5,0 persen konsumsi kelas menengah atas dan belanja pemerintah perlu didorong lebih optimal.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 31 Oktober 2019  |  04:08 WIB
Ilustrasi - Bloomberg
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi kumulatif 2019 tetap 5,0 persen konsumsi kelas menengah atas dan belanja pemerintah perlu didorong lebih optimal.

Ekonom Center for Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan kuartal IV memang kerap menjadi siklus kenaikan daya beli akhir tahun.

Namun khusus tahun ini, untuk menopang pertumbuhan 2019 tetap pada kisaran 5,05 persen sampai 5,08 persen, maka perlu ada penopang konsumsi dari masyarakat kelas menengah ke atas.

“Perkembangan sampai saat ini belum ada faktor pendorong konsumsi yang tinggi,” ujar Yusuf kepada Bisnis, Rabu (30/10/2019).

Selain mendorong dari konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas, Yusuf menilai pentingnya optimalisasi dari realisasi belanja pemerintah.

Dia menyebut sampai Agustus 2019 realisasi belanja pegawai juga baru berkisar 70 persen. Padahal faktor pendorong yang cukup optimal adalah belanja modal.

 “Masih ada pos dari belanja negara yang bisa digunakan untuk menopang pertumbuhan pada kisaran 5,05 persen sampai 5,08 persen,” pungkasnya.

 Saat ini Yusuf menilai kontribusi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sudah tak memiliki ruang cukup besar.

Anggaran bantuan sosial sudah tercurah sejak awal tahun, alhasil yang bisa dilakukan di sisa dua bulan terakhir adalah optimalisasi belanja agar efektif.

Selain melalui dua kanal tersebut, inisiatif lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi, salah satunya adalah dengan momen Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).

Meski demikian, menurut Yusuf, inisiatif tersebut belum tentu bisa memberi efek yang besar bagi pencatatkan kinerja pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat pencatatan investasi tumbuh melambat, begitu pun dengan realiasi ekspor-impor yang tidak mencatatkan prestasi, selain surplus US$85,1 juta pada Agustus 2019 lalu. 

Sebelumnya, Direktur Riset CORE Piter Abdullah memprakirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III hanya sekitar 4,95 persen sampai 5,0 persen. Dia menilai ada banyak alasan mengapa kuartal ini tidak mencatatkan prestasi.

Pertama, kinerja konsumsi dan investasi cenderung lebih kecil dari dua kuartal sebelumnya. Kedua, kinerja ekspor dan impor sepanjang kuartal III tidak menggembirakan meski pada neraca perdagangan Agustus 2019 mencatatkan surplus.

Ketiga, kinerja belanja pemerintahan juga tak banyak pada kuartal ini seiring dengan pergantian kabinet.

"Maka untuk mencapai outlook pertumbuhan 5,08 persen atau 5,1 persen kumulatif tahun ini, kuartal IV itu harus didorong sampai 5,2 persen lebih, sementara hal itu sangat sulit," ujar Piter kepada Bisnis.

Dia menilai secara perhitungan akan lebih realistis mencapai target 5,08 persen sesuai prediksi Kementerian Keuangan, jika pertumbuhan kuartal III tidak anjlok di bawah 5 persen.

Namun dengan peluang penurunan pertumbuhan pada kuartal ini, Piter memprakirakan target yang diasumsikan Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 5,05 persen menjadi lebih realistis tercapai. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi menengah atas belanja pemerintah
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top