Tingkat Keterisian Pusat Perbelanjaan di Jakarta Masih Tinggi

Strategi perubahan komposisi penyewa itu dirasa cukup efektif untuk menjaga okupansi.
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  17:17 WIB
Tingkat Keterisian Pusat Perbelanjaan di Jakarta Masih Tinggi
Calon pembeli memilih ponsel pintar di pusat perbelanjaan elektronik center, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/6). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Hingga kuartal III/2019, okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta masih cukup tinggi yaitu pada kisaran 90 persen. Hal itu didorong oleh perubahan konsep dan penataan penyewa yang dilakukan sejumlah pemilik pusat perbelanjaan.

Head of Retail JLL Indonesia Cecilia Santoso mengatakan bahwa pasar ritel pada kuartal ketiga tahun ini yang masih cukup aktif berasal dari sektor mode dan pujasera. Hal itu mendorong pemilik pusat perbelanjaan untuk melakukan perubahan komposisi penyewanya.

“Dari sisi tenancy mix, secara keseluruhan juga mulai bergeser dari department store menjadi mini-anchor,” ujarnya dalam acara paparan Market Update Jakarta Property, Rabu (16/10/2019).

Beberapa contoh pusat perbelanjaan yang melakukan perubahan komposisi penyewa antara lain adalah Central Park yang menggantikan pasaraya yang tutup dengan peritel baru seperti Ace Hardware, The Food Hall, Rockstar Gym, dan Uniqlo.

Selain itu, perubahan pasaraya yang digantikan dengan peritel baru juga dilakukan di Pacific Place, dan Kemang Village.

Strategi perubahan komposisi penyewa itu dirasa cukup efektif untuk menjaga okupansi.

Cecilia menyatakan bahwa hingga kuartal III/2019, okupansi pada pusat perbelanjaan masih cenderung stabil yaitu pada kisaran 90 persen.

Hingga kuartal III/2019, dia mengungkapkan bahwa pasokan pusat perbelanjaan baru cenderung terbatas.

Meskipun demikian, beberapa pengembang properti terkemuka masih tetap aktif untuk mengembangkan konsep retail mixed use yang terhubung dengan perkantoran dan kondominium.

Beberapa proyek mixed use di Jakarta antara lain adalah Indonesia 1 oleh PT China Sonanggol Media Investment, One Satrio milik PT Jakarta Setiabudi International, dan Southgate milik Sinarmas Land.

Sementara itu, Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengungkapkan bahwa harga sewa untuk mal kelas menengah ke atas mengalami peningkatan sebesar 1,20 persen karena pasokannya yang kian terbatas.

“Tingkat serapan pada kuartal ketiga tahun ini juga masih cukup tinggi yaitu mencapai 18.000 meter persegi meskipun kondisi pasokan terbatas,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jakarta, mal, pusat perbelanjaan

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top