Mengoperasikan 12 Unit dari 30 Unit Pesawat, Ini Klaim Operasi Sriwijaya Air Group

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro mengatakan, hingga saat ini jumlah pesawat yang dioperasikan sebanyak 12 unit dari total 30 unit.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  06:30 WIB
Mengoperasikan 12 Unit dari 30 Unit Pesawat, Ini Klaim Operasi Sriwijaya Air Group
Pesawat Sriwijaya Air di Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. - Bandara Silangit Antara/M. Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA--Sriwijaya Air Group mengklaim telah menyelesaikan masa transisi operasional pascaberlanjutnya lagi kerja sama manajemen dengan Garuda Indonesia Group, kendati belum bisa mengoperasikan semua pesawatnya.

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro mengatakan, hingga saat ini jumlah pesawat yang dioperasikan sebanyak 12 unit dari total 30 unit. Perinciannya sebanyak 10 unit digunakan untuk operasi normal, sedangkan 2 unit hanya disiagakan sebagai cadangan.

"Seluruh pesawat tersebut sudah di-handdle oleh GMF Aero Asia, jadi aspek keselamatannya sudah terpenuhi. Saat ini bisa dibilang sudah normal operation," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (3/10/2019).

Dia menambahkan hazard identification and risk asessment (HIRA) yang menjadi temuan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan sudah tidak ada. Sebelumnya, Sriwijaya Air Group, yang membawahi Sriwijaya Air dan NAM Air, mendapatkan skor 4A pada sejumlah identifikasi hazard.

GMF yang kembali memberikan dukungan perawatan pesawat, lanjutnya, menjadi faktor utama yang menyebabkan HIRA menjadi nihil. Terlebih, yang menjadi masalah sebelumnya adalah akibat dari penghentian layanan dari perusahaan perawatan pesawat anak usaha Garuda Indonesia Group tersebut.

Dia menegaskan masa transisi tidak membutuhkan waktu yang lama karena masalah keterbatasan maskapai dalam melakukan perawatan pesawat, stok suku cadang, dan jumlah teknisi berkualifikasi tinggi yang sedikit sudah terpenuhi kembali.

"Tidak ada lagi yang dibutuhkan, jadi [masa transisi] tidak perlu waktu lama. GMF sudah memberikan pelayanan secara penuh kembali," ujarnya.

Berdasarkan dokumen surat 001/EXT/PLT-DZ/X/2019 yang diterima Bisnis.com, Sriwijaya diketahui membentuk penanggung jawab khusus untuk menangani masa transisi manajemen dan pemulihan operasi sejak 1 Oktober 2019.

Dalam surat tersebut tertulis, saat ini maskapai perlu perhatian khusus untuk melakukan proses transisi manajemen dan pemulihan operasional secara insnetif, agar dapat memenuhi aspek keamanan dan keselamatan penerbangan guna memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan.

Adapun, susunan penanggung jawab antara lain Fadjar Semiarto sebagai Plt Direktur Utama sekaligus Direktur Operasi, Romdani Ardali sebagai Direktur Teknik, Joseph Dajoe K. Tendean sebagai Direktur Niaga, Elisabeth Enny Kristiani sebagai Direktur Keuangan, Jefferson I. Jauwena sebagai Plt. Direktur Human Capital, serta Toto Soebandoro.

Temuan yang menjadi penilaian risiko pada HIRA sebelumnya antara lain mencakup aspek faktor operasional, faktor teknis, serta faktor keselamatan dan keamanan. Faktor operasional yang menjadi sorotan antara lain dampak akibat keterlambatan jadwal dan pembatalan penerbangan, mengurangi kesadaran akan keselamatan, dan mengurangi produktivitas.

Faktor teknis seperti kekurangan personil perawatan pesawat yang berkualifikasi sehingga mengurangi tingkat keandalan dan berisiko kelelahan, keterbatasan suku cadang, peralatan, dan perlengkapan pendukung, serta adanya pesawat yang tidak dioperasikan karena alasan teknis (aircraft on ground).

Selanjutnya, pada faktor keselamatan dan keamanan adalah kenaikan laporan bahaya, kenaikan jumlah penyimpangan (irregularities), kenaikan keluhan, hingga kenaikan risiko insiden (incident).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air, garuda indonesia, nam air

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top