Penetrasi E-Commerce Ubah Peta Bisnis Logistik Global

Perkembangan perdagangan daring (e-commerce) yang cukup pesat di seluruh dunia mengubah peta logistik global. Di beberapa negara, perdagangan daring ini telah bersentuhan dengan hampir setiap aspek ritel, tetapi di beberapa negara pertumbuhannya baru saja dimulai.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 30 September 2019  |  20:34 WIB
Penetrasi E-Commerce Ubah Peta Bisnis Logistik Global
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan perdagangan daring (e-commerce) yang cukup pesat di seluruh dunia mengubah peta logistik global.

Di beberapa negara, perdagangan daring ini telah bersentuhan dengan hampir setiap aspek ritel, tetapi di beberapa negara pertumbuhannya masih baru saja dimulai.

Berdasarkan hasil riset dari Savills World Research yang terbaru, China dan Korea masih menjadi pemimpin pasar ecommerce yang menawarkan peluang terbesar untuk sektor logistik.

Lebih dari 25% dari semua belanja ritel di China dilakukan secara daring, menjadikannya sebagai pasar ecommerce terbesar di dunia. Ada beberapa faktor yang mendorong kondisi tersebut. Pertama, faktor jumlah populasi di China yang menggunakan ponsel untuk pembayaran.

Alipay dan WeChat Pay dimiliki dan terintegrasi erat dengan perusahaan ecommerce utama di negara tersebut yang membuat aktivitas belanja online tumbuh pesat.

“Kalau pengecer fisik memiliki rentang produk yang terbatas, sedangkan pelaku ecommerce menawarkan ragam pilihan produk yang luas, serta harga yang kompetitif karena produknya langsung dijual dari pabrik. Selain itu, faktor kepadatan populasi di kota-kota di China yang tinggi dan biaya tenaga kerja yang rendah membuat pengiriman cepat dan murah,” kata Kepala Riset Savills China James Macdonald seperti dikutip Bisnis, Senin 930/9/2019).

Pasar logistik di China didominasi dua pemain besar. Pertama, Alibaba yang merupakan pemilik mayoritas dari Cainiao Smart Logistics Network dan kedua yakni JD.com (Jingdong), yang juga telah mengembangkan jaringan logistik sendiri.

Cainiao, usaha patungan antara Alibaba dengan perusahaan logistik daan lembaga keuangan. Cainiao saat ini memproses 100 juta paket sehari dan menargetkan angkanya bisa meningkat menjadi 1 miliar per hari dalam satu dekade ke depan.

Seperti di negara-negara Barat, pemain e-commerce di China juga bergerak ke ritel fisik. Alibaba meluncurkan Fresh Hippo, supermarket yang juga berfungsi sebagai pusat pengiriman jarak jauh. Ada juga rumor bahwa Alibaba berencana membuka toko mikro di beberapa komunitas yang menawarkan pengiriman produk ke rumah dalam hitungan beberapa menit.

Sementara itu, negara Korea berada di urutan kedua pasar ecommerce tertinggi  di dunia dengan tingkat persentase 24% belanja ritel dilakukan secara daring.

Menurut Savills Korea Reseach & Consultacy, ada sekitar 400 pusat logistik yang berada di area seluas lebih dari 10.000 meter persegi di Seoul Metropolitan Area (SMA). Diperkirakan pada 2018 angkanya menjadi 1,8 juta meter persegi dan naik menjadi 1,9 juta meter persegi pada 2019 yang dimanfaatkan sebagai pusat logistik.

Tingkit imbal hasil untuk aset logistik di Korea dilaporkan sedikit menurun, tetapi masih lebih tinggi daripada imbal hasil untuk aset yang digunakan sebagai perkantoran, masing-masing sebesar 8% dan 6% atau selisihnya sekitar 200 basis poin.

Sementara pasar Eropa dan Asia banyak yang diuntungkan dengan tingkat populasi yang tinggi, negara Australia, Kanada dan Amerika Serikat harus bersaing lebih berat karena populasi penduduknya tersebar di daerah yang lebih luas. Hal ini berdampak langsung pada tingkat efisiensi dalam bisnis pengiriman.

Misalnya, layanan Amazon Prime di AS mempunyai standar dua hari pengiriman di AS, sedangkan di Inggris standar pengirimannya satu hari. Untuk daerah dengan kepadatan populasi yang tinggi seperti Koridor Timur Laut (Boston ke Washington DC) Amazon memiliki standar layanan pengiriman satu hari dengan mendirikan beberapa pusat kegiatan bisnis di beberapa wilayah.

Adam Petrillo, Kepala Layanan Industri Savilss di Amerika Utara, memprediksi tingkat penetrasi ritel online di AS akan meningkat secara bertahap. “Mungkin bukan pertumbuhan dua digit yang besar, tatapi pertumbuhannya berkelanjutan di mana perusahaan harus memiliki strategi omnichannel yang kuat untuk mendukungnya,” katanya.

Pasar yang Perlu Diperhatikan

Untuk kawasan Eropa, negara Inggris menjadi pemimpin ritel online dengan tingkat penetrasi ecommerce diperkirakan sebesar 19% pada tahun 2019, jauh di atas saingan terdekatnya yakni Belanda sebesar 14,9%.

Kevin Mofid, Direktur Penelitian Industri Savills, mengatakan pasar logistik Inggris tumbuh signifikan sejak tahun 2012, masa ketika pasar online masih tercatat 11% dari total penjualan ritel.

“Dengan melihat pasar logistik Eropa yang berbeda dan dibandingkan dengan posisi Inggris pada kisaran 2012, dapat diramalkan bahwa pertumbuhan yang pesat ini akan dapat direplikasi. Belanda, Jerman, Prancis, Denmark dan Swedia semuanya berada di puncak transformasi yang signifikan terkait hal ini. Begitu juga dengan Australia, patut jadi perhatian,” paparnya.

Dalam laporan Omnichannel Eropa Savills, Jerman dinilai sebagai pasar dengan daya tarik terbesar bagi investor bidang logistik. Pasalnya, dari sisi geografis,  Jerman berada di sisi timur dan barat Eropa serta dihubungkan dengan jaringan infrastruktur yang berkualitas, menghasilkan peluang yang besar baik untuk transportasi darat maupun angkutan laut di Eropa. Banyak investor yang memiliki minat yang besar dalam sektor logistik di Jerman.

Sementara itu, negara Prancis, memiliki potensi pertumbuhan yang kuat dalam ecommerce. Dengan tingkat penetrasi 11,2%, saat ini posisinya masih lebih rendah dari Belanda, Jerman dan Denmark. Tetapi Prancis sedang berada pada titik pertumbuhan yang signifikan di pasar logistik. Jaringan infrastruktur di Prancis memadai serta biaya negara tetapi biaya tenaga kerjanya masih dinilai cukup tinggi.

Selain Prancis, Swedia juga menjadi pasar dengan potensi besar dengan tingkat penetrasi ecommerce 10,5%.

Untuk kawasan Asia, India sebenarnya dinilai punya kemampuan untuk  berkembang ditunjang faktor penetrasi seluler dan biaya tenaga kerja yang rendah serta kepadatan penduduk yang tinggi di daerah perkotaan. Akan tetapi berbeda dengan China, potensi-potensi di India tersebut tidak didukung dengan booming manufaktur.

Tingkat penetrasi ecommerce di India cukup rendah yakni hanya 3,6%. Namun dengan populasi yang diperkirakan melampaui China dalam lima tahun ke depan, pasar ini menawarkan potensi yang besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik, e-commerce

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top