Ekspor Lesu, Target Penerimaan Bea Keluar Tetap Ditingkatkan

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan bahwa tahun depan pemerintah memproyeksikan adanya pertumbuhan harga komoditas sehingga target penerimaan bea keluar pun ditingkatkan.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 27 September 2019  |  17:32 WIB
Ekspor Lesu, Target Penerimaan Bea Keluar Tetap Ditingkatkan
Direktur Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu Heru Pambudi - Bisnis/Novita Sari Simamora

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Keuangan tetap akan meningkatkan target penerimaan bea keluar pada 2020 dibandingkan dengan outlook 2019 meski ekspor dan penerimaan terus tertekan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan bahwa tahun depan pemerintah memproyeksikan adanya pertumbuhan harga komoditas sehingga targetnya pun ditingkatkan.

Selain itu, Heru mengatakan bakal ada beberapa tambang yang mulai beroperasi terutama tembaga sehingga bea keluar diproyeksikan kembali meningkat.

"Artinya itu hanya dari potensi pertumbuhan saja bukan karena ekstensifikasi yang ekstrim," ujar Heru, Jumat (27/9/2019).

Selain itu, Heru juga mengatakan bahwa target utama dari pengenaan bea keluar bukanlah dasar utama pengenaan jenis bea tersebut.

Bea keluar hanya berfungsi untuk mengatur aliran barang dalam rangka menjaga suplai barang tersebut di pasar domestik.

Untuk diketahui, penerimaan bea keluar per Agustus 2019 mengalami pertumbuhan negatif sebesar -53,25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bea keluar hanya terealisasi sebesar Rp2,05 triliun, jauh di bawah Agustus 2018 yang mencapai Rp4,38 triliun.

Penerimaan bea keluar terutama disokong oleh ekspor komoditas tambang terutama dari tembaga.

Oleh karena ekspor tembaga mengalami perlambatan karena adanya perubahan kebijakan perusahaan, realisasi bea keluar pun pada akhirnya turut tertekan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan data yang sama, ekspor produk pertambangan pada 2019 secara kumulatif hingga Agustus menunjukkan pertumbuhan negatif sebesar -17,73% akibat menurunnya ekspor bijih tembaga.

Adapun ekspor pertambangan mulai Januari hingga Agustus 2019 mencapai US$16,35 miliar, lebih rendah dari tahun 2018 yang pada periode yang sama mencapai US$19,87 miliar.

Ekspor pun diproyeksikan tetap menurun hingga tahun depan mengingat volatilitas perekonomian global yang pada akhirnya menekan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia.

Meski demikian, target bea keluar tetap ditargetkan di atas outlook 2019. Target bea keluar pada 2020 dipatok di angka Rp2,6 triliun, sedangkan outlook-nya untuk tahun ini mencapai Rp2,29 triliun.

Hal ini berbeda dibandingkan dengan target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang signifikan terus diturunkan sejak 2018 hingga 2020.

Realisasi PNBP mencapai puncaknya pada 2018 yang mencapai Rp409,32 triliun. PNBP terus diproyeksikan turun dimana pada 2019 ini diproyeksikan mencapai Rp386,33 triliun dan kembali turun pada 2020 di angka Rp366,99 triliun.

Sejenis dengan bea keluar, PNBP juga sangat bergantung pada komoditas dimana PNBP SDA menjadi penyumbang terbesar PNBP secara keseluruhan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, bea keluar

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top