Okupansi Hotel Bintang Turun Akibat Persaingan dengan Penginapan Murah

Maraknya hotel budget akhir-akhir ini menjadi salah satu faktor menurunnya tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 05 September 2019  |  05:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Maraknya hotel budget akhir-akhir ini menjadi salah satu faktor menurunnya tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pada Juli 2019, TPK hotel klasifikasi bintang mencapai 56,73% turun 2,57 poin dibandingkan  dengan Juli 2018 yang mencapai 59,30%.

Capaian tersebut juga lebih rendah jika dibandingkan TPK hotel klasifikasi bintang pada Juli 2017 yang mencapai 57,52%.

Direktur Statistik Keuangan, Teknologi Informasi, dan Pariwisata, Titi Kanti Lestari mengatakan selain karena tren hotel budget, tingginya tarif maskapai juga menjadi pengaruh penurunan TPK hotel klasifikasi bintang.

“Salah satunya itu [hotel budget], tetapi bisa juga karena tarif maskapai yang naik,” kata Titi kepada Bisnis.com, Rabu (4/9/2019).

Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan periode 2018 dan 2017 tarif maskapai memang cenderung lebih murah dibandingkan tahun ini.  “Tahun lalu kan tarif pesawat memang agak murah.”

Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani juga mengatakan hal serupa. Dia mengatakan selain tarif pesawat, memang benar jika tren hotel budget yang menjamur di Indonesia cukup mempengaruhi tingkat penggunaan kamar hotel klasifikasi bintang.

“Tiket itu berpengaruh, ya disamping juga ada kompetisi [antar hotel], makin banyak supply kamar juga pengaruhnya besar,”  kata Hariyadi kepada Bisnis.com.

Tak hanya hotel budget yang menggunakan satu properti seperti OYO dan RedDoorz, yang memengaruhi TPK hotel klasifikasi bintang,  hotel budget dengan konsep sharing economy juga seperti Airbnb juga ikut memengaruhi okupansi hotel bintang.

“Airbnb itu kan tumbuhnya itu dalam satu tahun dia bisa sampai dengan sekitar 50%. Kalau Airbnb itu kan orang punya kamar nganggur bisa dikomersilkan, disamping juga virtual operator itu juga ngaruh seperti OYO, Reddorz, Airy. Nambahnya banyak itu. Dari semua itu yang paling pesat pertumbuhannya ya Airbnb.”

Terkait dengan ekspansi hotel budget,  OYO sebagai salah satu dari jaringan hotel di Indonesia telah berekspansi di 100 kota di Indonesia dengan bermitra lebih dari 1000 hotel, 27.000 kamar serta 1.200 pemilik hotel yang tergabung dalam jaringan OYO.

Ritesh Agarwal selaku Founder dan Group CEO OYO Hotels&Homes mengatakan, Indonesia berada di posisi ketiga dari lima besar target market OYO.  “Kami telah mencapai 5 juta customer  kurang dari satu tahun sejak OYO ada di Indonesia,” kata Ritesh.

Agus Hartono Wijaya selaku country head of business development from OYO Indonesia menambahkan hingga saat ini tingkat okupansi OYO sudah mencapai 70%--80% dengan mayoritas pengunjungnya adalah wisatawan lokal.  

Melihat besarnya capaian OYO yang terjadi kurang dari satu tahun tersebut,  Agus mengatakan, jika  OYO akan meningkatkan nilai investasi dari US$100 juta menjadi US$300 juta  untuk pengembangan OYO Indonesia. Nantinya investasi tersebut akan digunakan untuk membenahi properti dan pelatihan untuk peningkatan mutu kualitas hospitality.

“Untuk investment itu akan dipakai dalam 1 tahun kedepan, tahun lalu kan US$100 juta terus melihat hasil perkembangan yang sudah terjadi dari tahun kemarin akhirnya jumlah investasinya akan ditingkatkan jadi US$300 juta. Fokus kita kan di propertinya, jadi kita ingin supaya owner partner kami punya properti yang bagus, nah investasinya akan digunakan untuk itu.  Contoh kita punya partner, nah propertinya masih dibawah standar, nah OYO akan membantu perbaikan propertinya, jadi pendanaan itu untuk seperti itu. Kedua untuk training meningkatkan mutu hospitality.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, hotel budget, okupansi hotel

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top