Prospek Bisnis Ritel Modern Mulai Membaik Tahun Ini

Prospek bisnis ritel modern di Tanah Air pada 2019 menunjukkan tren positif yang tercermin dari pertumbuhan konsumsi barang kebutuhan sehari–hari atau fast moving consumer goods (FCMG).
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  13:46 WIB
Prospek Bisnis Ritel Modern Mulai Membaik Tahun Ini
Gerai Indomaret - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek bisnis ritel modern di Tanah Air pada 2019 menunjukkan tren positif yang tercermin dari pertumbuhan konsumsi barang kebutuhan sehari–hari atau fast moving consumer goods (FCMG).

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan FCMG yang terdiri dari 58 kategori produk selama ini menjadi produk yang menjadi andalan penjualan ritel modern. Secara umum konsumsi FCMG di ritel modern Indonesia tumbuh sebesar 6,6% selama periode April 2018—April 2019.

Angka tersebut terdongkrak oleh pertumbuhan konsumsi FCMG di ritel dengan format toko kelontong atau minimarket sebesar 12,1%. Sedangkan untuk format pasar swalayan atau supermarket pertumbuhan konsumsi FCMG tumbuh negatif di angka -6,8%.

“Data ini dapat diartikan bahwa masyarakat lebih suka berbelanja kebutuhan sehari- hari di minimarket karena lokasinya yang lebih dekat dengan permukiman dan lebih praktis karena tidak harus mengelilingi area belanja yang luas untuk mencari barang yang ingin dibeli,” kata Suhanto kepada Bisnis.com, Senin (26/8/2019).

Sebagai catatan, konsumsi FCMG secara keseluruhan di Indonesia tumbuh sebesar 1,8% pada periode April 2018—April 2019. Walaupun masih jauh dibandingkan angka inflasi, capaian tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya, April 2017—April 2018 yang hanya tumbuh sebesar 1%.

Sementara itu, Consumer Behaviour Expert dan Executive Director Retail Service Nielsen Indonesia Yongky Susilo mengatakan, secara umum kondisi bisnis ritel modern di Indonesia sepanjang tahun 2019 masih jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu.

“Masih dibawah angka inflasi, jadi masih lemah sekali,”

Angka inflasi sepanjang tahun kalender (year to date/ytd) hingga Juli 2019 tercatat sebesar 3,32%.

Capaian pada semester I/2019 menurut Yongky cenderung lemah karena adanya gelaran Pemilu. Hal itu, berdampak kepada masyarakat yang belum merasa nyaman  atau cenderung wait and see untuk membelanjakan uangnya pada periode tersebut.

“Sama seperti 2014, harusnya semester II/2019 bisa dikejar karena ada sentimen-sentimen baru,” ujarnya.

Lebih lanjut Yongky menjelaskan sentimen yang akan mendorong pertumbuhan bisnis ritel modern di semester II/2019 diantaranya adalah komitmen Presiden Joko Widodo untuk menyusun kembali regulasi yang ada untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“[Pada] 2019 ini pemulihan pertumbuhan, 2020 harusnya ada percepatan pertumbuhan,” ungkapnya.

Walaupun begitu, pertumbuhan bisnis ritel modern pada tahun ini diperkirakan tidak melebihi 10% atau sesuai dengan target pengusaha ritel modern. Pertumbuhan bisnis ritel modern pada tahun ini diperkirakan hanya akan menembus angka 6% secara tahunan (year on year/yoy).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top