Investasi Logistik Terus Tumbuh, Sayangnya Tidak Mengarah ke Fisik

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, realisasi investasi sektor Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi mencapai Rp71,8 triliun atau 18 persen dari total realisasi secara keseluruhan pada semester I/2019.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  06:20 WIB
Investasi Logistik Terus Tumbuh, Sayangnya Tidak Mengarah ke Fisik
Ilustrasi - mmproperty.com

Bisnis.com, JAKARTA -- - Realisasi investasi pada sektor transportasi dan logistik terus tumbuh dan bernilai besar pada semester I/2019, sayangnya ranah krusial sektor ini dinilai masih minim investasi.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sektor Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi mencapai Rp71,8 triliun atau 18 persen dari total realisasi secara keseluruhan pada semester I/2019.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Ilham Masita menyatakan investasi memang masih tinggi di sektor transportasi dan gudang, tetapi investasi di sektor ini masih didominasi oleh ride hailing atau transportasi online.

"Paling banyak investasi masih di ride hailing atau on demand transport, untuk investasi secara fisik seperti gudang atau truk belum terlihat geliatnya," ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (14/8/2019).

Padahal, tuturnya, para pelaku logistik berharap investasi lebih banyak di subsektor seperti pengembangan cold storage atau cold chain. Investasi di kedua subsektor ini disebut masih belum terlihat.

Pemerintah berdasarkan paket kebijakan ekonomi jilid XVI sudah mengeluarkan subsektor tersebut dari daftar negatif investasi (DNI), sehingga investasi asing porsi kepemilikannya dapat lebih besar.

"Padahal sudah 100 persen [keluar dari DNI], jadi ada faktor lain yang membuat investasi tidak masuk. Biaya impor yang tinggi untuk peralatan cold storage [bisa jadi masalahnya] karena pajak yang mencapai 1/3 dari harga produk," jelasnya.

Investasi di subsektor cold storage yang semula terbuka untuk kepemilikan asing sebesar 33 persen meningkat menjadi terbuka 100 persen.

Dia menyayangkan kondisi ini karena cold storage sangat penting untuk penyimpanan barang-barang segar produksi para petani dan nelayan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik, pergudangan

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top