Industri Elektronik Sulit Jadi Andalan Ekspor

Pelaku industri elektronik menyatakan sektor manufaktur, khususnya elektronik, saat ini belum mampu menggantikan peran crude palm oil (CPO) yang belakangan ekspornya terus menurun.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  06:15 WIB
Industri Elektronik Sulit Jadi Andalan Ekspor
Pengunjung melihat barang elektronik disalah satu toko elektronik di Makassar (Bisnis - Paulus Tandi Bone)

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri elektronik menyatakan sektor manufaktur, khususnya elektronik, saat ini belum mampu menggantikan peran crude palm oil (CPO) yang belakangan ekspornya terus menurun.

Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) menyatakan industri elektronik belum dapat menggantikan manfaat yang yang dihasilkan dari ekspor CPO.

Menurutnya, manfaat nilai ekspor yang dihasilkan CPO akan diterima seluruhnya oleh masyarakat di dalam negeri, sedangkan industri elektronika hanya memiliki konten lokal sekitar 20% dari sebuah produk.

Ketua Umum Gabel Ali Soebroto mengatakan, industri elektronik harus menggandakan performanya hingga dua setengah kali agar sebanding dengan performa nilai ekspor CPO.

Selain itu, pabrik-pabrik industri elektronik di dalam negeri didominasi oleh hasil penanaman modal asing (PMA) yang merupakan bagian dari rantai pasok global. Alhasil, nilai impor pada neraca perdagangan industri elektronik juga besar.

Ali menyarankan agar regulasi industri direvisi sehigga lebih ramah terhadap investasi asing.

“Intinya begini, mengapa mereka memilih ke Malaysia, Thailand, [dan] Vietnam? Tidak ke Indonesia? Pasti ada hal-hal yang kita tidak menarik,” ujarnya kepada Bisnis belum lama.

Ali menilai salah satu pemicu rendahnya minat investasi asing adalah tarif kebutuhan dasar industri yang tinggi seperti listrik, bahan baku, dan tenaga kerja.

Dia mengatakan, pengeluaran insentif pajak terkait inovasi dan vokasi tidak cocok untuk menggaet investasi masuk ke dalam negeri.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat nilai ekspor lemak dan minyak hewan/nabati turun 18,13% dari US$9,8 miliar menjadi US$8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun, ekspor lemak dan minyak hewan/nabati secara bulanan merosot 11,77% atau turun US$160,9 juta menjadi US$1,2 miliar.

Secara rangking, kontribusi ekspor pada semester I/2019 dipimpin oleh bahan bakar mineral (15,33%), lemak dan minyak hewan/nabati (10,89%), dan mesin/peralatan listik (5,28%). Serupa dengan CPO, performa industri elektronik pada semester I/2019 juga merosot yakni 5,53% secara tahunan dan 20,17% secara bulanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor cpo, Industri Elektronik

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top