Inikah Penyebab 'Rontoknya' Bisnis Ritel Modern di Indonesia?

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti memprediksi pertumbuhan penjualan ritel modern tidak akan tumbuh mencapai  10% pada tahun ini.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  13:16 WIB
Inikah Penyebab 'Rontoknya' Bisnis Ritel Modern di Indonesia?
Susu bubuk di supermarket - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pergeseran gaya berbelanja masyarakat ke platform dagang elektronik disinyalir turut memengaruhi penjualan fast moving consumer goods (FMCG) di ritel modern.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan, tren tersebut membuat pertumbuhan penjualan ritel modern tidak akan tumbuh mencapai  10% pada tahun ini.

Kondisi tersebut, lanjutnya, diperkuat oleh data Bank Indonesia, bahwa transaksi di platform dagang-el Indonesia sepanjang 2018 mencapai Rp77,766 triliun. Angka tersebut meroket 151% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp30,942 triliun.

“Namun, secara umum perkembangan usaha ritel modern di Indonesia, yang dilihat dari besaran konsumsi produk FMCG, selama April 2018—April 2019 masih tumbuh positif sebesar 1,8% dengan pertumbuhan ritel modern 6,6%,” katanya.

Kendati demikian, dia meyakini bisnis ritel modern akan tetap mencatatkan pertumbuhan di Indonesia.

 Tjahya meminta agar para peritel modern,  terus mengembangkan strategi omnichannel untuk menggenjot penjualan. 

 Berdasarkan data yang dimilikinya, 95% dari anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah bertransformasi dan mengembangkan penjualan secara daring.

“Ekspansi gerai ritel modern juga akan terus berlanjut. Namun, mungkin peritel tidak lagi membutuhkan gerai ritel yang luas, cukup gerai yang sedang atau kecil tetapi dilengkapi dengan fasilitas penjualan secara online untuk memuaskan pelanggan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey meyakini pertumbuhan bisnis ritel modern masih sesuai harapan dan akan menembus 10% pada tahun ini.  Ekspansi bisnis tersebut, lanjutnya masih akan terus mengalami laju yang kuat. 

“Tahun ini pertumbuhan ritel modern kami yakini masih akan mencapai 10% meskipun pada semester I/2019 pencapaian dari sisi transaksi di bawah ekspektasi. Pada saat Lebaran contohnya, total pertumbuhan penjualan di anggota kami hanya 25%, di bawah target 35% yang kami canangkan,” ujarnya.

Namun demikian, dia meyakini, kinerja penjualan ritel modern pada semester II/2019 dapat mengompensasi pertumbuhan pada Lebaran yang berada di bawah target.

Terlebih, lanjutnya, pada sisa tahun ini terdapat momentum pesta diskon Indonesia Great Sale (IGS) serta Natal dan Tahun Baru.

Direktur Utama PT Mega Perintis Tbk. (Manzone) FX Afat Adinata Nursalim mengakui, penjualan segmen fesyen pada semester I/2019 di bawah ekspektasi, terutama pada saat Lebaran.

Menurutnya, hal itu terjadi karena hari libur Lebaran yang lebih pendek dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain, penurunan penjualan juga disebabkan oleh memanasnya kondisi politik Indonesia.

“Namun, kami optimistis dapat mencapai target pertumbuhan penjualan 15% tahun ini. Kami yakin, kinerja semester II/2019 akan menutup kinerja yang di bawah ekspektasi pada paruh pertama tahun ini,” jelasnya.

Vice President Corporate Communication Transmart Satria Hamid mengatakan, sepanjang tahun ini bisnis ritel modern Indonesia tengah mengalami tekanan yang besar. Namun, dia menyebutkan, bisnis perusahaan tidak akan terlalu terpengaruh.

“Kami masih terus mengalami pertumbuhan penjualan yang meyakinkan dan sesuai target. Kami bahkan masih akan terus berekspansi tahun ini, salah satunya dengan membuka dua gerai baru di Semarang dan Pangkal Pinang,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top