Lelang Lima Wilayah Kerja Panas Bumi Bakal Diundur

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM F.X. Sutijastoto mengatakan lelang wilayah kerja panas bumi yang seharusnya dilakukan pada Juli 2019 kemungkinan akan diundur. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  12:50 WIB
Lelang Lima Wilayah Kerja Panas Bumi Bakal Diundur
Petugas mengontrol sumur bor produksi KMJ 71 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Unit I Kamojang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. - Antara/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA -- Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM F.X. Sutijastoto mengatakan lelang wilayah kerja panas bumi yang seharusnya dilakukan pada Juli 2019 kemungkinan akan diundur. 

Menurutnya, meskipun diundur, lelang akan tetap dilakukan pada tahun ini dan tidak akan jauh dari target awal. Saat ini, persiapan lelang berupa masukan dari pemerintah masih dilakukan sebagai bagian dari proses. 

"Mundur, tetapi tetap tahun ini," katanya kepada Bisnis, Selasa (9/7/2019). 

Toto mengatakan koordinasi dengan pemerintah daerah memang membutuhkan waktu cukup lama karena berkaitan dengan izin lokasi hingga pembangunan infrastruktur untuk pembangkitan. 

"Kami akan meningkatkan koordinasi dengan menyesuaikan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) sehingga bisa mempercepat," katanya. 

Adapun  jumlah wilayah kerja panas bumi (WKP) yang dilelang pada tahun ini menjadi lima dari sebelumnya berjumlah empat. Penambahan tersebut dilakukan karena PT PLN (Persero) menolak atau menyatakan tidak berminat mengelola lima WKP yang ditawarkan Kementerian ESDM.

Lima WKP yang yang akan dilelang tersebut  adalah WKP Sembalun dengan kapasitas 100 megawatt (MW) di Nusa Tenggara Barat, Telaga Ranu 85 MW di Maluku Utara, Gunung Galunggung 160 MW di Jawa Barat, Gunung Wilis 50 MW di Jawa Timur, dan Lainea 20 MW di Sulawesi Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
panas bumi, kementerian esdm, energi terbarukan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top