Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AYAM PEDAGING : Integrator Diminta Analisis Kebutuhan Impor GPS

Integrator peternakan ayam diminta untuk membuat analisis kebutuhan grand parent stock (GPS) sebelum mengajukan permohonan impor.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  17:00 WIB
Pedagang memotong daging ayam di lapaknya di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1). - JIBI/Rachman
Pedagang memotong daging ayam di lapaknya di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/1). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA- Integrator peternakan ayam diminta untuk membuat analisis kebutuhan grand parent stock (GPS) sebelum mengajukan permohonan impor.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyebutkan hal ini dilakukan untuk bisa mengukur besaran kebutuhan impor GPS sebenarnya guna mencegah potensi oversupply yang akan merugikan para peternak.

"Artinya kenapa dia [integrator] juga tidak menganalisis. Kalau memang butuhnya 10 [ekor] kenapa minta 80 [ekor],” ujarnya ketika ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (1/7/2019).

Untuk mengukur ketepatan hasil analisis ini, pihaknya pun akan melengkapi diri dengan komisi ahli. Komisi ini juga akan  melibatkan berbagai pihak seperti asosiasi, integrator, dan lainnya untuk memberi masukan.

Menurut Ketut, kewajiban menyediakan analisis kebutuhan ini nantinya akan tertuang dalam pakta integritas antara pihaknya dengan para integrator.

Di samping perhitungan analisis kebutuhan, para integrator juga akan diminta menyediakan cold storage dengan kapasitas proporsional dibandingkan dengan jumlah kepemilikan ungags.

Keberadaan cold storage ini bertujuan sebagai sarana penyimpanan ketika terjadi kelebihan suplai (over supply) sehingga pasokan yang berlebih tidak tumpah ke pasar dan menyebabkan penurunana harga hingga merugikan peternak.

Keberadaan cold storage ini juga berguna untuk menyokong buffer stock, sehingga ketika terjadi kejadian di luar dugaan force majeur seperti penyakit, harga ayam juga tidak melambung terlalu tinggi. Kendati demikian, pihaknya belum bisa menentukan besaran cold storage yang dibutuhkan.

“Harus begitu. Kalau produksi misalnya produksi 1 juta, punya cold storage untuk 100 ekor kan enggak masuk akal. Saya pribadi tidak bisa menghitung, yang hitung komisi ahli yang ahli dalam hitung menghitung,” tambahnya.

Di samping itu, pihaknya juga berencana agar seluruh broker di sektor ini bisa teregistrasi. Hal ini, kata Ketut, menjadi penting untuk keperluan penelusuran ketika terjadi gejolak harga.

Dengan adanya solusi ini, diharapkan ke depan harga ayam tidak lagi mengalami fluktuasi yang berpotesi merugikan peternak juga konsumen.

Sementara itu, pihaknya mencatat, harga ayam di tingkat peternak di sejumlah daerah saat ini mulai bergerak naik. Sebagai contohnya, saat ini, harga ayam di tingkat peternak di Jawa Tengah menurut Ketut telah mencapai Rp17.000-Rp18.000 per kilogram.  Adapun di Bali, menurut Ketut harga ayam di tingkat peternak mencapai Rp15.000 per kilogram dan Rp16.000 per kilogram di Lampung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging ayam peternak ayam
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top