Genjot Potensi Mandalika, Pengusaha Minta Ada Kepastian

Presiden Jokowi meminta para pengusaha untuk meningkatkan investasi di KEK Mandalika, khususnya investasi untuk membangun hotel.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  18:43 WIB
Genjot Potensi Mandalika, Pengusaha Minta Ada Kepastian
Ketua Umum Asosiasi Pengusahan Indonesia (Apindo) Hariyadi BS. Sukamdani memaparkan disertasi untuk meraih gelar doktor Program Studi Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, di Depok, Jumat (7/7). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah pengusaha diundang Presiden Joko Widodo ke Istana untuk membahas peluang investasi, terutama akomodasi, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pemilik Sahid Group, Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta para pengusaha untuk meningkatkan investasi di KEK Mandalika, khususnya investasi untuk membangun hotel. Hingga saat ini, dia mencatat jumlah hotel ada di KEK Mandalika hanya berjumlah tiga unit.

“Nah ini, dengan adanya rencana MotoGP dan juga F1. Saya juga baru dengar itu ternyata Pak Jokowi ada pembicaraan Sabtu [pekan ini] kalau enggak salah di Osaka, dengan siapa itu, pemegang right-nya F1 akan menghadirkan F1 juga di sana. Karena kekurangan dari hotel, mereka minta kita-kita pengusaha ini hotel dan properti untuk investasi,” katanya seusai diterima Jokowi di Istana Kepresidenan, Selasa (25/6/2019).

Menurutnya, persoalan di KEK Mandalika salah satunya adalah minimnya atraksi sehingga cukup sulit untuk menarik wisatawan mancanegara yang banyak ke kawasan itu. Meskipun, ada rencana gelaran MotoGP pada 2021, dia menilai sifatnya hanya musiman.

“Memang harus didorong semuanya, karena memang harus. Enggak bisa hanya dibiarin gitu aja. Harus ada atraksinya. Apalagi Lombok culture-nya kurang begitu kayak Bali. Jadi memang harus di dorong,” ujarnya.

Selain itu, pencitraan suatu kawasan juga dinilainya penting karena beberapa waktu itu, Hariyadi mengungkapkan Pemerintah Provinsi NTB sempat menetapkan kawasan tersebut dengan konsep wisata syariah dan wisata halal.

Dalam hal ini, dia menjelaskan pencitraan pariwisata halal atau syariah di NTB justru membuat pembatasan terhadap segmentasi KEK Mandalika.

“Pilihan terhadap restoran halal, hotel halal atau muslim friendly itu pasti ada, tapi tidak di-branding seperti itu. Mungkin lebih tepatnya muslim friendly, seperti itu juga penting karena jangan sampai kita membatasi potensi yang ada,” ujarnya.

Dia menambahkan, yang tak kalah penting adalah insentif yang ditawarkan oleh pemerintah untuk melecut investasi di KEK Mandalika. Salah satu persoalan yang dikeluhkan pengusaha yaitu kenaikan harga sewa tanah di Nusa Dua yang dikelola oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), operator yang juga mengelola KEK Mandalika.

“ITDC kan juga ngelola di Nusa Dua, Nusa Dua itu harga sewanya mahal setelah perpanjangan . Nah itu jadi masalah, harusnya enggak boleh terlalu tinggi harganya karena kita kan tidak memiliki tanahnya, malah invest di situ. Nah ini ada tren yang kurang bagus dari BUMN, tidak melihat jangka panjangnya,” tukasnya.

Sebaliknya, negara-negara lain misalnya Vietnam, disebutnya justru memberikan tarif sewa tanah yang murah untuk mendorong iklim investasi di negaranya. “Itu dibikin sewanya harus murah, kan yang penting dia dapat bagian juga dari situ, ada persentase dari pendapatan revenue-nya kan dapet,” tambahnya.

Sementara itu, Pemilik Mayapada Group, Dato Sri Tahir, mengungkapkan pemerintah dan pengusaha harus menciptakan momen atau atraksi, tak hanya MotoGP, untuk menarik kunjngan wisatawan mancanegara.

“Saya pikir bukan GP-nya [MotoGP] yang menarik, tapi adalah tourism-nya yang menarik, jangan hanya GP-nya. GP kan setahun sekali ya sisanya, GP kan sehari, 356 hari apa yang kita lakukan. Kalau bikin hotel kan secara ekonomi bisa creat market, kalo misalnya ada 20 hotel dibangun kan ada market itu. Hotel itu sendiri menarik turis. Misalnya ada JW Mariot,” tekannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, hotel, haryadi b. sukamdani

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup