Indonesia Perlu Siapkan Langkah Baru Hadapi Perang Dagang AS-China

Pendekatan antisipatif perlu disiapkan pemerintah Indonesia menghadapi perang dagang AS-China yang masih berkepanjangan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 09 Juni 2019  |  11:49 WIB
Indonesia Perlu Siapkan Langkah Baru Hadapi Perang Dagang AS-China
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pendekatan antisipatif perlu disiapkan pemerintah Indonesia menghadapi perang dagang AS - China yang masih berkepanjangan.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan insiatif baru atau kebijakan antisipatif diperlukan perang dagang AS-China tidak menimbulkan efek negatif yang serius bagi perekonomian dalam negeri.

“Pemerintah dan DPR tidak boleh pasif dan perlu merumuskan berbagai inisiatif baru untuk menyiasati periode ketidakpastian global yang tereskalasi akibat potensi rusaknya sistem dan mekanisme perdagangan dunia akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China,” kata Bambang kepada wartawan, Minggu (9/6/2019). 

Bambang mengataka salah satu dampak dari fenomena itu adalah kinerja ekspor akan melemah sehingga defisit neraca perdagangan bisa berkepanjangan.

"Laju ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil) dan karet, tidak akan mulus lagi," kata Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo.

Bamsoet menyebutkan bahwa pada saat yang sama, ada potensi pasar Indonesia yang besar akan dibanjiri produk impor. Salah satunya adalah produk baja dari China. 

Sedangkan dampak ikutan lainnya adalah meningkatnya permintaan valuta asing akibat tingginya volume impor. Tingginya permintaan valuta asing juga berpotensi mendepresiasi rupiah, kata Bamsoet.

Bamsoet pun mengimbau agar berbagai kemungkinan buruk itu diantisipasi. Pemerintah dan DPR harus bersiasat, agar ketidakpastian global itu tidak menimbulkan kerusakan serius.

Apalagi, lanjut dia, Indonesia memiliki modal dasar yang cukup mumpuni untuk menghadapi karut marut perdagangan global itu.

Indonesia masih sangat potensial menarik investasi asing. Pembangunan infrastruktur yang merata di semua daerah juga dapat merangsang investor lokal untuk berbisnis. 

"Motor pertumbuhan lainnya adalah konsumsi masyarakat yang akan diupayakan tetap tinggi oleh pemerintah. Semua itu masih ditambah lagi dengan naiknya tingkat keyakinan komunitas pebisnis mancanegara, sebagaimana tercermin dari pernyataan tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Standard and Poor"s atau S&P Global Rating, Fitch Ratings dan Moody’s," kata Bamsoet.

"Modal dasar itu bisa dieksploitasi untuk mempertebal daya tahan ekonomi nasional. Syarat utamanya adalah terjaganya stabilitas keamanan nasional, ketertiban umum dan terjaganya stabilitas politik," tambah Bamsoet.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bambang Soesatyo, perang dagang AS vs China

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top