Daya Saing Indonesia Naik 11 Peringkat, Infrastruktur Turut Berkontribusi

Selesainya sejumlah proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh pemerintah diklaim telah berkontribusi positif terhadap peningkatan daya saing Indonesia.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 03 Juni 2019  |  10:30 WIB
Daya Saing Indonesia Naik 11 Peringkat, Infrastruktur Turut Berkontribusi
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri), Mensesneg Pratikno (kiri), Gubernur NTT Viktor Laiskodat (kedua kanan), dan Bupati Belu Willy Lay (kiri) di sela-sela peresmian Bendungan Rotiklot di Belu, Atambua, NTT, Senin (20/5/2019). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA — Selesainya sejumlah proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh pemerintah diklaim telah berkontribusi positif terhadap peningkatan daya saing Indonesia.

Berdasarkan rilis peringkat daya saing 2019 yang dikeluarkan oleh lembaga riset yang berbasis di Swiss, IMD World Competitiveness Center, daya saing Indonesia melesat 11 peringkat tahun ini menjadi peringkat 32 dari sebelumnya tahun 2018 berada di peringkat 43. Empat indikator besar yang diukur yaitu kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.

Kenaikan peringkat daya saing Indonesia menjadi yang terbesar di regional Asia Pasifik. Dalam rilis tersebut, peningkatan daya saing disebabkan efisiensi di sektor pemerintahan, demikian halnya kemajuan dalam ketersediaan infrastruktur dan iklim bisnis.

“Meskipun peringkat Indonesia naik, namun masih dib awah Malaysia di peringkat 22 dan Thailand di peringkat 25. Apabila stok infrastruktur kita stagnan maka daya tarik investasi kita akan kalah dibandingkan negara tetangga," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono beberapa waktu yang lalu dilansir dari laman resminya.

Basuki mengatakan pembangunan infrastruktur menjadi pilihan logis dan strategis semata-mata untuk meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus untuk mengejar ketertinggalan. Terlebih Indonesia sempat mengalami krisis ekonomi yang berdampak pada penundaan dan penghentian pembangunan dan pemeliharan infrastruktur.

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, salah satu strategi yang ditempuh pemerintah sejak 2015 adalah mengalihkan belanja subsidi menjadi belanja produktif  berupa pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.

Namun demikian dampak kebijakan pembangunan infrastruktur tidak serta merta dapat dirasakan dalam jangka pendek. "Untuk itu kita banyak membangun infrastruktur di Papua, Papua Barat, NTT dan kawasan perbatasan," ujarnya

Daya saing yang baik diperlukan untuk menarik investasi baik dari dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan produksi nasional dan membuka lapangan kerja yang akan mengurangi jumlah pengangguran.

“Infrastruktur yang kurang memadai akan membuat produk Indonesia sulit bersaing. Rendahnya konektivitas yang mengakibatkan biaya logistik kita lebih mahal daripada Malaysia, Singapura atau bahkan Filipina," ujarnya. 

Basuki mengatakan bahwa upaya membangun konektivitas dilakukan secara sinergi multimoda, sebagai contoh Kementerian Perhubungan membangun pelabuhan dan bandara, maka Kementerian PUPR akan menyediakan akses jalan bebas hambatannya.

Pembiayaan menjadi tantangan Pemerintah meskipun anggaran infrastruktur di Kementerian PUPR cukup besar dengan rata-rata di atas Rp 100 triliun, namun belum memenuhi kebutuhan. Dalam lima tahun (2015-2019) total anggaran Kementerian PUPR sebesar Rp 548,4 triliun yang terbagi tahun 2015 sebesar Rp 119,6 triliun, tahun 2016 sebesar Rp 98,1 triliun, tahun 2017 sebesar Ro 106,3 triliun, tahun 2018 sebesar Rp 113,7 triliun dan tahun 2019 sebesar Rp 110,7 triliun.

Oleh karenanya untuk infrastruktur yang pembiayaannya dapat melibatkan masyarakat seperti jalan tol, maka pembangunannya melalui investasi badan usaha. Dengan demikian anggaran infrastruktur yang ada dioptimalkan bagi pembangunan di kawasan perbatasan, daerah terpencil maupun infrastruktur kerakyatan seperti air minum, sanitasi, jembatan gantung, rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah semakin diperluas cakupan layanannya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
proyek infrastruktur, daya saing ekonomi

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top