RISET IMD: Infrastruktur Topang Perbaikan Ekonomi Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukkan perbaikan yang paling signifikan di kawasan Asia Tenggara dalam riset yang dirilis oleh International Institute for Management Development (IMD).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  16:08 WIB
RISET IMD: Infrastruktur Topang Perbaikan Ekonomi Indonesia
Foto udara rencana jalur pengalihan arus mudik jalur Pantura Tegal, Jawa Tengah, Minggu (26/5/2019). - ANTARA/Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia menjadi salah satu negara yang menunjukkan perbaikan yang paling signifikan di kawasan Asia Tenggara dalam riset yang dirilis oleh International Institute for Management Development (IMD).

Performa Indonesia turut didukung oleh efisiensi masif dalam pemerintahan serta kondisi infrastruktur dan bisnis yang lebih baik. Namun, Indonesia memiliki biaya tenaga kerja terendah dari seluruh 63 negara yang diteliti oleh IMD.

Negara lain di kawasan Asia Tenggara, yakni Thailand naik lima peringkat ke posisi 25 berkat peningkatan pada arus investasi asing langsung dan produktivitas.

Jepang, di sisi lain, turun lima peringkat yang disebabkan oleh performa ekonomi mereka yang lesu, tingginya utang pemerintah dan pelemahan pada kondisi bisnis.

Di kawasan Eropa, gambarannya lebih beragam, di mana Inggris turun ke peringkat 23 dari 20 tahun lalu. IMD mengutip ketidakpastian dari Brexit menjadi faktor dengan dampak terbesar pada kondisi ekonomi dan politik Inggris.

Norwegia harus tergeser dari peringkat 10 besar sementara Denmark dan Belanda masing-masing turun dua peringkat meskipun masih memegang status top 10.

Swiss tetap menjadi negara yang paling kompetitif di kawasan Eropa disusul oleh Irlandia pada peringkat ketujuh.

Menurut data, Irlandia memimpin secara global untuk insentif investasi, penanganan kontrak sektor publik dan bidang-bidang seperti citra, branding, dan manajemen bakat.

Portugal membukukan penurunan terbesar di wilayah ini, turun enam peringkat ke posisi 39, sebuah penurunan dari prestasi mereka di tahun sebelumnya.

Efek dari kenaikan harga bahan bakar turut mempengaruhi peringkat daya saing, namun dengan catatan inflasi menjadi faktor yang mengurangi daya saing terhadap beberapa negara.

Produsen bahan bakar fosil seperti Uni Emirat Arab, Qatar dan Arab Saudi naik peringkat, sementara inflasi berdampak negatif pada Turki dan Yordania.

Pendapatan perdagangan yang lebih kuat membantu produsen minyak dan gas seperti pendaki terbesar Arab Saudi tahun ini, yang melonjak 13 tempat ke posisi 26, dan Qatar, yang masuk 10 besar untuk pertama kalinya sejak 2013.

"Uni Emirat Arab, di peringkat lima, saat ini menempati posisi tertinggi secara global untuk efisiensi bisnis, mengungguli ekonomi lain di bidang-bidang seperti produktivitas, transformasi digital dan kewirausahaan," tulis IMD, Rabu (29/5/2019).

Sementara itu, negara-negara Amerika Latin terus mendapatkan peringkat yang buruk. Venezuela yang saat ini tengah dilanda krisis dari kedua sisi, baik ekonomi maupun politik, menempati peringkat terakhir.

Negara dengan peringkat tertinggi dari wilayah ini, Chili, mengalami penurunan terbesar tahun ini, turun 7 peringkat ke posisi 42, sementara Brasil dan Argentina juga berada di peringkat lima terbawah.

Brasil menempati peringkat terendah di antara 63 negara yang dikaji untuk biaya pinjaman, menjadikannya negara yang paling mahal bagi bisnis untuk meminjam, serta memiliki keterampilan bahasa yang rendah.

"Skor yang lebih rendah untuk infrastruktur, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, dan energi, menghapuskan perbaikan dalam lanskap bisnis Afrika Selatan yang merosot ke urutan ke 56," tulis IMD.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infrastruktur

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top