Harga Telur Mahal di Pasar, Peternak Justru Banting Harga

Harga telur di tingkat peternak telah jatuh ke level Rp16.000/kilogram (kg)—Rp17.000/kg sepanjang pekan lalu.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  12:09 WIB
Harga Telur Mahal di Pasar, Peternak Justru Banting Harga
Peternak mengumpulkan telur ayam di Denggungan, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (26/12/2018). - ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan tajam harga telur ayam di pasar ternyata tidak dinikmati oleh peternak. Peternak justru terpaksa menjual telur d bawah biaya produksi.

Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (APLN) Musbar Mesdi mengatakan, harga telur di tingkat peternak telah jatuh ke level Rp16.000/kilogram (kg)—Rp17.000/kg sepanjang pekan lalu. Menurutnya, harga tersebut berada di bawah biaya pokok produksi (BPP) petani sebesar Rp18.000/kg.

Harga di tingkat peternak tersebut berbanding terbalik dengan harga di pasar. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga telur ayam terus naik sejak 1 Mei 2019 yang mencapai Rp24.050 dan menembus Rp26.100/kg pada Jumat (17/5).

Harga tersebut berada di atas harga acuan di tingkat konsumen dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.96/2018 tentang Harga Acuan Pembelian Di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Dalam beleid tersebut, harga telur ayam di tingkat konsumen ditetapkan Rp23.000/kg.

“Kondisi ini menjadi anomali tersendiri bagi kami peternak. Di tengah momentum Ramadan dan Lebaran yang biasanya permintaan naik, harga di peternak justru turun di bawah BPP. Sementara itu, di tingkat konsumen harganya justru terus merangkak naik,” jelasnya, Minggu (19/5).

Menurutnya, saat ini stok telur ayam per hari di tingkat peternak terus mengalami peningkatan, sedangkan permintaan cenderung turun. Hal itu membuat peternak melakukan panic selling agar tidak terpapar kerugian akibat kelebihan stok.

Para peternak sengaja menjual harga telurnya secara murah ke pengepul atau pedagang untuk menghindari kerugian yang lebih dalam akibat rendahnya harga telur ayam. Saat ini pasokan harian telur ayam mencapai 7.000 ton per hari, sedangkan permintaan di pedagang hanya sekitar 6.000 ton per hari atau tidak berubah dari periode di luar Ramadan.

“Para peternak terpaksa jual murah, karena pada 25 Mei mereka harus segera membayar tunjangan hari raya ke pegawainya. Mereka tidak mau rugi terlalu dalam karena kejatuhan harga telur.”

Musbar menghitung, apabila harga telur ayam di peternak mencapai Rp16.000/kg—Rp17.000/kg, maka harga wajar di tingkat konsumen adalah Rp23.000/kg. Perhitungan itu didasari oleh rata-rata margin keuntungan pedagang dari pembelian di peternak senilai Rp4.000/kg dan ongkos logistik seharga Rp2.000/kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telur, harga pangan

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top