Diserbu Produk China, Kemenperin : Industri Sepeda Masih Berpotensi Tumbuh

Maraknya produk impor dari China menyebabkan produsen sepeda terdesak. Namun, pemerintah menilai industri nasional masih berpeluang untuk bertumbuh. Apa alasannya?
Annisa Sulistyo Rini | 16 Mei 2019 03:45 WIB
Ketua DPD Oesman Sapta Odang membawa sepeda hadiah dari Presiden Joko Widodo sebagai salah satu peraih busana adat terbaik saat HUT Ke-72 RI di Istana Negara - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Maraknya produk impor dari China menyebabkan produsen sepeda terdesak. Namun, pemerintah menilai industri nasional masih berpeluang untuk bertumbuh. Apa alasannya?

Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mengatakan bahwa industri sepeda nasional masih memiliki kemungkinan untuk bertumbuh kerena industri nasional telah memiliki raw meterial seperti bahan logam yang cukup untuk kebutuhan pabrikan sepeda.

Dia menjelaskan Kemenperin telah berupaya untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang belum bisa diproduksi oleh industri nasional dengan fasilitas seperti bea masuk ditanggung pemerintah (BMDP).

"Selain itu, Kemenperin akan mendorong berlakunya Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk membendung produk jadi dari luar negeri," ujarnya, Rabu (15/5/2019).

Menurutnya, saat ini sepeda asal China memiliki harga yang jauh murah dibandingkan dengan produk dalam negeri. Salah satu cara untuk menekan harga produk nasional adalah dengan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri.

“Industri komponen sepeda nasional diharapkan segera bisa menyubstitusi bahan baku impor. Selain itu, ajakan untuk memakai sepeda harus terus didorong seperti yang dilakukan oleh Pak Presiden Joko Widodo,” katanya.

Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono mengatakan persaingan dagang dengan produk asing dirasakan semakin berat ketika penurunan bea masuk impor sepeda dari China dari 10% menjadi 5% mulai berlaku pada tahun lalu. Penurunan ini merupakan implementasi perjanjian dagang antara Asean dan China.

Dengan bea masuk sebesar 5%, produsen sepeda dalam negeri kesulitan bersaing dengan produk sepeda asal China karena harus memperhitungkan biaya tenaga kerja, risiko investasi, dan biaya lainnya. Bahkan, dengan tarif impor bahan baku 0%, industri dalam negeri masih belum mampu menandingi harga produk impor yang lebih murah.

“Kami [para produsen] berdiskusi, secara logika bagaimana selisih 5% bisa melawan impor. Produsen mempertimbangkan mendingan impor karena tidak perlu memikirkan biaya macam-macam,” ujarnya Rabu (15/5/2019).

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Sepeda, Produk China

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup