Defisit April Tembus US$2,5 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar. Menurut BPS, defisit April ini merupakan yang terbesar sejak Juli 2013.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  11:59 WIB
Defisit April Tembus US$2,5 Miliar
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kiri) memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar. Menurut BPS, defisit April ini merupakan yang terbesar sejak Juli 2013.

Defisit ini disebabkan oleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat senilai US$12,60 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor yang mencapai US$15,10 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto melihat defisit yang mencapai US$2,5 miliar ini disebabkan oleh defisit di neraca migas yang senilai US$1,49 miliar.

"Hal ini disebabkan karena hasil minyak yang mengalami defisit lumayan dalam," ungkap Suhariyanto, Rabu (15/05/2019). Hasil minyak per April 2019 mengalami defisit hingga US$1,32 miliar.

Ekspor pada bulan ini turun sebesar 10,80 persen dibandingkan bulan lalu yang dipicu oleh penurunan drastis ekspor barang migas sebesar 34,95 persen. Secara tahunan, ekspor juga tercatat turun lebih dalam sebesar 13,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai US$14,50 miliar.

neraca perdagangan

Dari sisi ekspor, ekspor migas mengalami penurunan cukup dalam sebesar 34,95 persen (mtm) menjadi US$740 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan bulanan ini dipicu oleh penurunan ekspor hasil minyak dan gas.

Sementara itu, ekspor migas secara tahunan juga turun 37,06 persen (yoy) dipicu oleh penurunan ekspor minyak, hasil minyak, dan gas.

Ekspor pertanian juga mengalami penurunan sebesar 6,74 persen (mtm) menjadi US$250 juta pada April 2019 dipicu oleh penurunan ekspor hasil hutan bukan kayu, buah-buahan, mutiara, tanaman obat dan rempah-rempah.

Secara tahunan, BPS mencatat penurunan ekspor pertanian mencapai 15,88 persen (yoy) yang disumbang oleh komoditas jagung, biji kakao, tanaman obat aromatik, dan rempah-rempah.

Ekspor dari industri pengolahan juga tercatat turun sebesar 9,04 persen (mtm) menjadi US$9,42 miliar pada April 2019. Komoditas ekspor industri pengolahan yang mengalami penurunan pada bulan April antara lain logam dasar mulia, perhiasan, minyak kelapa sawit, besi baja dan peralatan listrik.

BPS melaporkan ekspor barang tambang Indonesia juga mengalami penurunan pada April ini sebesar 7,31 persen (mtm) menjadi US$2,19 miliar didorong oleh penurunan ekspor batubara lignite, biji besi, dan tembaga.

Adapun, impor pada April 2019 mengalami kenaikan sebesar 12,25 persen menjadi US$15,10 miliar dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan nilai impor disebabkan oleh peningkatan impor migas sebesar 46,99 persen.

Berdasarkan pengunaan barang, impor konsumsi meningkat cukup tajam sebesar 24,12 persen (mtm) menjadi US$1,42 miliar, didorong oleh impor sepatu, pir, dan daging beku.

Menurut Suhariyanto, peningkatan impor barang konsumsi merupakan pola musiman yang sering muncul saat Ramadan dan Lebaran. Secara tahunan, impor konsumsi sebenarnya menurun sebesar 5,37 persen dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, impor bahan baku dan barang penolong meningkat 12,09 persen (mtm) menjadi US$11,33 miliar. Secara tahunan, impor bahan baku dan barang penolong turun sebesar 6,28 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
defisit neraca perdagangan

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top